Chat with us, powered by LiveChat
Situs Togel Online Goo4dagen sbobet terpercaya ads-banner24ads-banner25 Situs judi casinositus casino online

Friday, November 16, 2018

0

Diperkosa Oleh Preman Kampung Hingga Jadi Maniak Seks


Cerita Seks Diperkosa Oleh Preman Kampung Hingga Jadi Maniak Seks^_^ Aku masih berumur 17 tahun bentar lagi aku menginjak usia ke 18 tahun saat ini aku masih kelas 2 SMA tinggi badanku 165 cm aku memiliki ukuran bra 34 B aku juga terlalu memikirkan besar buah dadaku, aku terlahir di lingkungan yang baik dimana aku belum mengerti soal seks sampai suatu ketika peristiwa itu terjadi pada diriku.

Sebenarnya aku sedikit khawatir karena jalan tersebut biasanya cukup sepi apa lagi pada pukul 5.30 sore seperti ini. Aku pulang telat karena ada acara osis setelah pulang sekolah tadi.
“hai neng cantik.” celetuk seorang yang sepertinya preman.
Aku tak menghiraukannya dan berjalan lebih cepat.

“yah cantik-cantik kok sombong sih neng ” katanya lagi dan berjalan mengikutiku dari belakang.
Aku berlari menjauhi dia dan setelah beberapa meter aku mencoba menoleh kebelakang untungnya orang itu sudah tidak kelihatan.
“huft untung aja gak ngikutin.” pikirku

Tapi tiba-tiba ada yang membekap mulutku dan kemudian tubuhku juga di tangkapnya sehingga aku tidak dapat bergerak. Aku berusaha meronta ronta tapi apa daya tubuh kecilku tak berpengaruh sama sekali mengahadapi tubuh kekarnya.
Dia menyeretku menuju sebuah gedung yang sudah tidak terpakai lagi sehingga daerah di sekitarnya juga tak ada pemukiman.


Setelah memasuki gedung tersebut dia membawaku masuk ke sebuah ruangan. Cukup besar juga 6×6 meter dan juga terdapat sofa dan meja meskipun terlihat kotor dan rapuh. Aku di lemparkannya ke sofa tersebut.
“Aaawwh..”aku teriak kesakitan

Walaupun itu sofa sudah banyak sobek di sana sini serta cukup keras sehingga membuat badanku kesakitan apa lagi sedari tadi aku di bekap dengan keras oleh dia.
“tenang aja cantik ga bakal sakit kok kalau kamu ga ngelawan.”
“saya mohon pak lepaskan saya, akan saya beri semua uang saya.” sambil terisak menangis

“aku lagi ga butuh uangmu aku butuh kamu sayang” dia mendekati sofa yang kududuki.
Dengan tubuh kesakitan aku mencoba bangkit berlari tapi refleknya cukup cepat dan mendorongku lagi ke sofa.
“jangann pak aku mohon..”

“tenang aja neng enak kok.” dia memelukku dengan tubuh gelap dan kekarnya serta tato d sebagian tubuhnya. Dia memiliki wajah sangar yang menyeramkan.
“lepas kan paak..” aku berusaha memberontak. Tapi dia terus memelukku dengan erat serta mencoba menciumiku.

“Emmhhh mmmmhh” aku menutup bibirku erat-erat tapi dia terus menciumiku dan memegang daguku dengan keras sehingga memaksa mulutku terbuka
“Eeeemm eemmmhh..”

“heeemmm..”


Dia terus menciumi bibirku serta menjilati mulutku.
Aku berusaha menolaknya tapi lama kelamaan ada perasaan aneh dalam diriku jantungku berdebar debar perasaan aneh yang belum pernah kurasakan.
Lama kelamaan aku tanpa sengaja menikmati ciuman tersebut.

“heeemmm sseeeessshh.”
Entah kenapa tanpa sadar aku membalas ciumannya. Kami saling melumat aku memejamkan mataku menikmati setiap kali mulutku di jelajahi lidahnya. Lidah Kami saling berpautan.
“Hmm gimana enak kan neng ciumannya..”

Bagai disambar petir setelah mendengar hal tersebut kesadaranku kembali dengan jantung yang masih berdebar aku mendorongnya kemudian lari tapi baru sampai pintu dia menarik bajuku sehingga aku terjatuh kebelakang.
“Aaaawwh..” aku mengalami benturan yang cukup keras di kepala sehingga membuatku sedikit pusing.

“makanya jangan lari aku gak bakal main kasar kok kalau kamu nurutin aku.” membawaku ke sofa lagi.
Dengan benturan di kepala membuat aku tak berdaya. Preman itu mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan mengarahkan tepat di depan leherku.


“oke sekarang kita rubah aturanya kalau sampe kamu ngelawan lagi jangan salahkan aku kalau pisau ini menancap pada lehermu.”
aku semakin ketakuan. “hikss.. iya pak.” Dengan sedikit menahan air mataku.
“ohh iya jangan panggil pak panggil aja mas, oh iya nama kamu siapa cantik”

“hiksss.. Na.. nama saya Pinny mas”
“wah cantik juga ya namanya kayak wajahnya.” preman itu membelai pipiku
“hiiksss hiiiiksss hiiiiksss” aku terus menangis.
“udah dong cantik jangan nangis apa mau pisau tadi lagi”

“eh eh iya mas” aku berusaha menahan air mataku.
Nah gitu kan bagus ayo senyum pasti kamu cantik.
Dengan sedikit di paksakan aku berusaha untuk tersenyum.
“wahh wahh manis banget kamu rejeki nomplok emang nih” katanya tertawa. Dia meraba payudaraku.

“wah gede nih gak nyangka dapet bonus toge nih.” lanjutnya tertawa.
“ssssseeesshhhhhh..” preman itu mulai meremas remas pada awalnya aku merasa risih tapi lama kelamaan perasaan geli dan aneh mulai muncul.
“huff mas udaahhhhh”

“udah apanya sayang.”
“itu tangannya.”
“emang kenapa tanganku?”
“remas aaahhh geli masss”
“tapi enakkan”


Aku memejamkan mata dan mendesah tanpa sadar menikmati remasan tersebut.
Ketika aku membuka mata ternyata kancing seragamku sudah terbuka semua dengan reflek aku menutup payudaraku yang masih tertutup bra biru muda.
“eh eh tangannya awas apa kamu mau pisau”

Dengan terpaksa aku menurunkan tanganku dan dengan leluasa dia memandangi payudaraku.
“ukuran berapa nih neng” preman itu melanjutkan meremas payudaraku dengan hanya terhalangi bra.
"Ssseessssshh gatau mass”
“ayo jujur kalau gak kamu tau kan akibatnya”
“sssssessshhh ii.. iya iya eeemmhh.. 34B.”

“wah mantep nih apa lagi klu di kenyot.” Dia langsung menyingkap braku ke atas sehingga memperlihatkan pemandangan indah dua buah gunung kembar dengan puting yg berwarna sedikit merah muda dan dengan puncak yang berdiri tegang.
“eneng udah sange ya tegang gini putingnya enak ya?”

Dia menghisap puting sebelah kiriku. Terus menghisap dan sesekali menggigit membuatku tak berdaya hanya bisa mendesah dan meremas sofa tersebut.
“jawab dong kalau aku tanya!!” perintahnya
“ehh ii iya bang”

“iya apanya”
“sssseeessshhhh iya enak mas” dengan wajah merah padam dan malu-malu aku berkata seperti itu.
“nah gitu dong” dia lanjut menghisap putingku dan memainkan yg sebelah kanan
Hal tersebut membuatku tak karuan hanya desahan yang keluar dari mulutku. Perasaan aneh yang tak pernah kurasakan.


Setelah puas dengan dadaku dia trus menciumi perutku dan kemudian dia menyuruhku untuk melepaskan rok abu-abuku. Aku sangat takut karna jika aku lakukan hal itu maka semua hal tersebut akan terjadi. Melihat aku yg sedikit ragu dia ganti menyuruhku untuk mengulum penisnya.

Baca Juga : Kisah Bercinta Dengan Pacar Yang Cantik Dan Sekaligus Kembaran Pacarku

Aku kaget bukan kepalang. Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya.
Dia menyuruhku jongkok d depan sofa tempat dia duduk dan menyuruh melepaskan celananya. Aku ragu tapi dia menarik tanganku tepat di gundukan yg menyembul di selangkangannya.

Awalnya mengusap usap kemudian dia menurunkan celananya sehingga nampak penis hitamnya yg berdiri tegak di hadapanku aku belum pernah melihat benda itu dan membuatku merinding.
“wah kok takut gitu gak pernah liat ya”
Dia menyuruhku mengocok dengan tangannya.

“ssssseesssshhh enakk ada bakat kamu pinter ngocok”
Aku terus mengocoknya
“sekarang ciumin!” perintahnya.

Dengan ragu aku mencium ujung penisnya yang mengeluarkan cairan bening dengan rasa takut. Aku menciumi seluruh batang itu.
”ayo sekarang hisap”
Dengan tiba-tiba dia memasukkan penisnya kedalam mulutku.


“Uhukkk” aku kaget dan bingung.
“hisap!”
Dengan takut aku mulai mengisapnya. Ada rasa asin dan rasa aneh bercampur. Beberapa menit aku menghisapnya hingga menjadi terbiasa dengan rasa dan bau itu. Aku juga menggerakkn kepalaku maju mundur serta menjilati ujung penisnya.

Perasaan jijik dan takut yg sebelumnya kini sirna semua tergantikan dengan perasaan aneh yang membuatku kecanduan.
“ssseesssshhhh dasar lonte ternyata doyan juga lo.”
Kata kata kasarnya entah kenapa membuatku semakin bergairah menghisap penisnya

“aaaaahh ooooohh terus say”
Dia memegang kepalaku dang menggerakkan pinggulnya hingga membuatku tersedak.
“aaaaahh Pinny gue keluarr aaaahhh..”
Cairan kental dan terasa aneh memenuhi mulutku.

“telan semua awas kalau ada yang lo keluarin”
Mendengar itu dengan terpaksa aku menelan semua carian yang terasa aneh tersebut.
“gluukk gluukk”.
Kemudian menjilati sisa sisa carian di ujung penisnya.

“wah lu pinter juga ya bakat ngoral juga lu.”
Saat aku berdiri dia langsung mendorongku duduk di kursi dan jongkok didepanku kemudian menarik keatas rok ku hingga celana dalamku kelihatan.
“wah wah lo basah juga ya.”


“kasian nih kalau cd lo basah mending gue lepas ya” dia menarik turun dan entah kenapa aku reflek menaikkan bokongku saat dia menurunkan cd ku.
“wah memekmu cantik bener nih”
aku berusaha menutup kakiku tapi lngsung di halanginya.

Dia menciumin pahaku pangkal paha dan di sekitar vaginaku dan terakhir dia menciuminya.
“aaaaaahhhh ssseeessshhh..”
Rasa geli aneh dan nikmat bercampur menjadi satu. Desahanku terus menjadi jadi karena rasa nikmat yg amat sangat, aku menggeleng gelengkan kepala merasakan hal itu.

Di ciumi dan di jilati tempat itu
“sluuupp sluuuppp”
“aaaaahhhss udah bangg...”
Dia terus menjilatinya dan memasukan jari ke vaginaku dan mengocoknya.

“ooouuuhh bang udah bangg aku udahh”
Aku meracau tak karuan..
Dan akhirnya. “aaaaaahhhhh.
Semua cairan milikku tersembur keluar. Perasaan yang belum pernah aku rasakan. Badanku terasa ringan. Kenikmatan yang paling nikmat kurasakan.

Semua cairanku di telannya tanpa tersisa. Di jilatinya vaginaku
“hheeemmmhh ooooohhhh..”
tubuhku langsung terkulai lemas.
“wah wah wah.. Ternyata lo keluar, enak kan?”


Tanyanya sambil tertawa..
Aku menutup wajahku yang merah padam. Aku tidak menyangka bakal menikmati hal memalukan tersebut.
Tiba-tiba preman itu melebarkan kakiku yang masih lemas. Dan mendekatkan penisnya ke vaginaku. Dia menggesekkan penisnya hingga membuatku merasa aneh lagi.

“aaaahh bang udah bang”
“apanya yg udahan neng”
“itu eeeeemmhhh jgn di gesekin lagi bang lepasin saya”
“wah wah jadi kamu udah pengen ya oke deh”

Dia menempatkan penisnya tepat di depan lubangku. Perlahan aku merasakan batang penis itu masuk
“aaaaaaawwwwhhh bangg..”
mulai menyeruak masuk hingga setengah dia langsung menghentakkan pinggulnya dan Jleeeebbb....
“Aaaawwhhhhh.. Saaaakittt”

Batang penis itu mengisi setiap tempat di vaginaku. Benda yang panjang itu merobek selaput darah yang selama ini aku jaga.
Aku mencakar punggungnya karena kesakitan dan reflek air mataku menetes menahan sakit tersebut.
“udah neng sakitnya cuma bentar kok ntar abang bikin enak” dia menahan penisnya di vaginaku. Terasa penuh dan panas. Beberapa saat kemudian dia menggerakkan pinggulnya.

“aaaaahhh aaaaawwhh ooooohh…” Cerita Terpanas

Dia terus menggerakkan pinggulnya. Sekali dua kali dan kemudian semakin lancar meski pada awalnya agak perih tapi lama kelamaan rasa perih itu hilang dan berganti dengan perasaan aneh dan nikmat. Erangan kesakitanku kini berubah menjadi desahan kenikmatan.
“aaaaahh oooohhhhh aaaaaahh”


Dia terus menggenjotku dan meciumi bibirku dan ku sambut dengan membalas ciuman.
“Ooohh bener” maknyos deh memek lu”
“ssssseeesssshhh hhheemmmm terus bang”
“aaahh kenapa enak ya”
“ooouuuhhh iya bang terus ahh”

Aku ikut menggerakkan pinggulku.
Beberapa saat kemudian dia mengajak ganti gaya dengan doggy style.
“plokk plokk plookk.” suara hentakan pahanya dengan pantatku.
Dan semakin terasa nikmat.
Dia menciumi leherku, Meremas dadaku dari blakang.

“aaaaahhh bang ayo bang truss ahhh…”
Entah kesadaranku hilang kemana, aku mengeluarkan kata-kata yang memalukan aku terus menggoyangkan pinggulku seirama dengan gerakannya.
“aaaaaahh bang aaaaaaahh..” aku sekali lagi keluar dengan hebatnya.

“aaaaahhh aaaaaaahh aku juga sayaang”
Croot....croottt.....crrooootttttt.........
Vaginaku terasa penuh dan hangat aku merasa preman itu menyemprot berkali-kali hingga lemas. Walaupun aku awalnya di perkosa entah kenapa aku menikmati kejadian tersebut dan vagina terus berkedut setiap membayangkan hal tersebut.

Wednesday, November 14, 2018

0

Kisah Bercinta Dengan Pacar Yang Cantik Dan Sekaligus Kembaran Pacarku


Cerita Seks Kisah Bercinta Dengan Pacar Yang Cantik Dan Sekaligus Kembaran Pacarku^_^ Kisah ini berawal ketika aku mempunyai pacar yang ternyata dia punya saudara kembar yang identik hampir segalanya, rambutnya, bodynya, suaranya, pokoknya semua sama jadi aku sulit untuk membedakan yang mana pacarku. Pacarku itu namanya Lika dan dia punya saudara kembar yang bernama Lisa. Aku dan Lika berkenalan di telepon dan mengobrol cukup lama, lalu aku mengajak Lika bertemu di rumahnya.

Jadi sorenya aku langsung berangkat ke rumah Lika. Ternyata Lika itu adalah cewek yang menarik dan mempunyai wajah yang nafsuin, alis matanya begitu indah menurutku dan bodynya sudah benar-benar aduhai dan seksi. Lika pun tampaknya juga menyukaiku. Lalu dia mempersilakan aku masuk dan kami berbincang-bincang dirumahnya.

Dalam waktu singkat kami berdua mulai akrab karena punya banyak kecocokan. Waktu itu kami berdua duduk bersebelahan di sofa panjang. Aku sering mencuri pandang wajahnya yang cantik, dia juga begitu. Setelah capek ngobrol dan bercanda kami berdua saling terdiam cuma saling berpandangan dan tersenyum.

“Kamu cantik..” kataku memecah kebisuan.
“Kamu juga cakep, Jeff..” jawabnya.

Aku benar-benar ingin menciumnya, aku sudah tak tahan ingin merasakan bibirnya yang seksi itu, mata kami tetap saling bertatapan. “Aku suka mata kamu, bibir kamu..” pujiku sambil mataku memandang ke arah bibirnya yang mungil.

Lika hanya tersenyum mendengar kataku itu. Lalu aku mulai mendekatkan wajahku perlahan dan Lika juga melakukan hal yang sama. Kami mulai berciuman, saling menikmati dan merasakan. Mulanya ciuman kami begitu hangat tapi lama-lama terasa ada nafsu dalam ciuman kami. Aku mulai menggigit bibirnya yang mungil dan lidah kami beradu.


Lidahku mulai menari dalam bibirnya lalu aku mulai merasa lidahku seakan tertarik masuk ke dalam mulutnya, kami berdua mulai tak bisa mengendalikan diri, desah nafasnya makin membara, matanya terpejam dan wajahnya yang cantik itu mulai merona merah, kedua tangannya menjambak rambutku seakan menahan nafsu yang ingin meledak.

Sambil berciuman kami mulai berganti posisi, Lika duduk di pangkuanku dan tanganku mulai nakal meraba dan meremas-remas buah dadanya yang montok. Kurasakan kedua pahanya menjepit erat pinggangku saat bibirku memciumi lehernya dan lidahku menjilati dan menghisap daun telinganya. Sementara itu tanganku mulai turun meremas remas pantatnya yang empuk.

Desahannya terdengar makin keras, satu tangannya mulai berani memegang kontolku yang mengeras diluar celanaku. Bosan menciumi lehernya, tanganku membuka bajunya dan melepas BH-nya, lalu kuhisap buah dadanya dan kusedot masuk kedalam mulutku, sementara itu lidahku kuputar-kuputar di puting susunya.

“Uuuuuhhh” desahnya menikmati rangsanganku.

Tangannya mulai berani membuka resleting celanaku dan mengeluarkan kontolku dari dalam celanaku, tangannya yang kecil itu mulai mengocok kontolku yang besar pelan-pelan, akupun juga memerosotkan celana dan CD-nya. Lalu tangan kiriku meremas-remas pantatnya dan tangan kananku meraba-raba vaginanya.

Terasa bulunya begitu halus dan jemariku terasa basah terkena lendir dari vaginanya, jari telunjukku mulai kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah dan licin itu dan kutarik maju mundur perlahan, sementara itu mulutku terus merangsang puting susunya yang kecil.


“Aaaaahh.. Ssseeessstttt” desahnya tak tertahankan, nafasnya tersengal-sengal menderu.

Kemudian Lika mendekatkan badannya semakin merapat ketubuhku sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku diluar vaginanya, kontolku terasa geli saat kena bulu jembutnya yang halus itu. Aku sudah tak tahan ingin memasukkan kontolku ke vaginanya, tapi aku cuma diam saja mengikuti alur permainannya.

“Jeff, aku pengen ML sama kamu nih..” ajaknya sambil tersenyum malu-malu.
“Sekarang di rumah kamu ada siapa? Ntar kalau ada yang melihat gimana..?” jawabku.
“Tenang aja, orangtuaku sedang keluar kota, adikku sekarang lagi tidur, jadi aman kok..”, jawabnya sedikit memaksa sambil tangannya terus meremas kontolku.

Tanpa menunggu jawabanku, Lika mulai berdiri dengan lututnya sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku di bibir vaginanya. Wajahnya tampak begitu seksi saat itu. Helm kontolku mulai terasa basah terkena lendirnya. Kemudian pantatnya mulai turun pelan-pelan, terasa helm kontolku masuk didalam vaginanya.

Lalu Lika mulai bergerak naik turun perlahan, rasanya kontolku sedikit sulit masuk seluruhnya meskipun vaginanya sudah sangat licin karena kontolku terlalu besar. Tapi Lika terus memaksakan, pantatnya turun terus, akhirnya kontolku mulai masuk seluruhnya kedalam, rasanya kontolku seperti dipijat-pijat dan di tarik oleh vaginanya. Kami berdua mendesah pelan menahan kenikmatan itu.

“Aaaaaahh.. Ooooooooohh” suaranya semakin membangkitkan birahiku.

Pantatnya mulai bergerak lagi naik turun perlahan kemudian bergerak semakin cepat, tanganku meremas pantatnya sendiri sambil membantunya bergerak agar lebih cepat. Pentil susunya terus kulumat dan kuhisap masuk di mulutku. Lika terus bergerak naik turun, terasa kepalaku sakit karena dia terlalu kuat menjambak rambutku dan menarik kepalaku ke buah dadanya.


Aku sudah tak tahan menahan orgasmeku yang hampir ke puncak, lalu terasa tubuh Lika bergetar dan pahanya terasa menjepit erat pinggangku, gerakannya sedikit tertahan tapi dia terus bergerak naik turun, matanya terpejam sambil bibirnya makin mendesah keras.

Lalu terasa kontolku makin hangat dan basah di dalam vaginanya. Rupanya Lika telah orgasme, gerakannya mulai terasa amat perlahan, tapi tanganku terus mengangkat pantat Lika naik turun karena aku juga hampir orgasme, akhirnya kontolku memuncratkan spermaku ke dalam vaginanya, Lika ikut bergerak lagi membantuku mencapai puncak kenikmatan.

Rasanya pahaku basah kuyup kena cairan orgasme kami berdua. Kemudian Lika berdiri lalu jongkok di depanku, tangannya mengocok kontolku, lidahnya sekali-kali menjilati sisa spermaku, benar benar suatu kenikmatan yang tak mampu terucap dengan kata-kata.

Setelah selesai dan kontolku mulai melemas, Lika duduk di sebelahku, kepalanya bersandar di bahuku sementara tanganku membelai rambutnya. Kami berdua berusaha mengatur nafas setelah kecapekan bercinta. Lalu kami memakai pakaian kami kembali. Kami berdua tak tahu kalau ada yang mengintip kami sedang bercinta tadi di sofa.


“Jeff, jangan anggap Lika cewek nakal ya..? Pintanya manja padaku.
“Enggak kok, aku gak pernah berpikiran begitu sama kamu..” jawabku menenangkan hatinya, lalu Lika tersenyum manis sambil memelukku lebih erat.
“Jeff.. Udah jam 11 nih, kamu pulang dulu ya, tapi janji besok kamu harus ke sini pagi-pagi ngantar Lika ke kampus..!” pintanya padaku, aku cuma mengangguk.

Akhirnya aku pulang ke rumah dan langsung tidur karena capek.

Baca Juga : Beruntungnya Mendapatkan Murid Cantik Dan Seksi Yang bisa Di ajak Bercinta

Besoknya..

“Waduh.. Gimana nih, udah jam 10 siang..!” umpatku karena bangun kesiangan, lalu aku bergegas mandi dan langsung berangkat ke rumah Lika, berharap dia belum berangkat ke kampus.
Sesampainya di rumah Lika aku langsung masuk karena aku tahu orangtuanya belum pulang dari luar kota. Tak terlalu sulit menemukannya karena di rumahnya cuma ada 3 kamar. Tampak di depanku Lika sedang tiduran di ranjang. Lika cuma tersenyum melihatku.

“Lho kamu sudah pulang kuliah ya? Sorry ya tadi pagi gak ngantar kamu.. Abis kecapekan kemarin bercinta ama kamu sih..” alasanku supaya dia gak marah.
“Gak apa-apa kok Sayang.. Lagian Lika juga gak ke kampus karena kecapekan kemarin..” jawabnya santai.
“Sini, rebahan di samping Lika, kangen nih..” ajaknya manja.

Aku langsung tiduran di sampingnya sambil memeluknya.
“Jeff.. Eeemmhh.. Bercinta lagi yuk?” ajaknya mengagetkanku, aku langsung saja mengiyakan kegirangan.
“Tapi sekarang pemanasannya yang lama ya..?” pintanya manja.

Aku cuma tersenyum dan langsung mengambil posisi di atas tubuhnya. Kemudian kami langsung berciuman sangat hot dan bernafsu, tapi terasa ada yang beda dan aneh, karena tindakannya berbeda dengan yang kemarin malam. Tapi aku tak peduli, pikirku yang penting bercinta. Lika kali ini terasa kasar waktu berciuman, lidahku digigit cukup keras sementara tangannya mencakar punggungku, aku tak peduli, pikirku Lika sekarang amat bernafsu ML.


“Pelan-pelan aja Sayang..”, ujarku, tapi dia seakan tak peduli, kemudian tangannya mendorong kepalaku ke bawah, tepat di atas gundukan vaginanya.
Tampak Lika sangat nafsu menggesek-gesekkan kepalaku di vaginanya yang amat basah, terasa hidung dan bibirku basah kena cairannya, lidahku langsung kumainkan menjilati klitorisnya sembari tanganku meremas-remas puting susunya.

“Aaaahhh.. Aaaahhhh, terus Jeff, masukkan lidahmu ke dalam dong..” desahnya manja, langsung saja lidahku kumasukkan dan kuputar-putar di dalam vaginanya, terasa cairannya masuk ke dalam mulutku dan kutelan.
“Ooooohhhh.. Iya gitu sayang..” rintihnya tanpa malu-malu.

Tangannya makin mendorong kepalaku, membenamkan wajahku ke vaginanya, aku terus menjilati vaginanya makin cepat, kemudian terasa pahanya menjepit keras kepalaku, tubuhnya bergetar keras, sembari tangannya menjambak rambutku. Kemudian terasa mulutku kena semprot cairannya banyak sekali, bau khas wanita orgasme, tubuhnya makin mengejang sampai orgasmenya berakhir.

Setelah itu Lika menarik tubuhku dan menjilati cairannya sendiri di mulutku, setelah puas Lika langsung mendorong tubuhku, aku merebahkan diri di ranjang, sementara itu Lika bergerak liar melucuti pakaianku, lalu meremas dan mengocok kontolku dengan cepat, wajahnya tampak liar bernafsu saat itu.


Lalu mulutnya mengulum kontolku, memasukkan batang kontolku ke dalam tenggorokannya, kemudian menghisap, menyedot kontolku dengan sangat nafsu, aku cuma terpejam menikmati rangsangan yang luar biasa nikmat itu. Lalu kurebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang dan langsung menindihnya. Kontolku langsung kusodok-sodok dengan cepat ke dalam vaginanya.

“Aaaahhh.. Aaaahhhh.. Aaaaaahhhh” rintihnya menahan gempuran kontolku. Cerita Terpanas

Langsung saja kugoyang dengan cepat pantatku maju mundur. Lika semakin merintih gak karuan, semakin menambah nafsuku. Setelah puas menindihnya, kubalikkan badannya membelakangiku lalu kusodok lagi dari belakang dengan cepat, sementara tanganku meremas-remas buah dadanya.

“Jeff.. Masukin di lubang pantat Lika dong..!” ajaknya mengagetkanku.
“Gak apa-apa nih..?” jawabku.
“Iya, Lika suka kok..” kemudian kucopot kontolku, lalu lubang pantatnya kubasahi dengan ludahku, Lika cuma mendesah keenakan campur geli.

Setelah itu kugesekkan kontolku di pantatnya dan kusodok pelan-pelan, rasanya sulit sekali masuk karena lubang pantatnya terlalu kecil, tapi terus saja kusodok sampai akhirnya masuk setengah. Kemudian kugoyang maju mundur agar lebih masuk lagi, sampai akhirnya batang kontolku terbenam seluruhnya di dalam pantatnya.


Terasa sangat nikmat sekali karena lubangnya sangat sempit, kontolku berdenyut-denyut merasakan pijatannya sampai akhirnya terasa spermaku mengalir di dalam urat kontolku. Lalu langsung menyemprot di dalam lubang pantatnya.

“Aaaaahh.. aaaaaaahhh..!” desahku menikmati orgasme. Sampai akhirnya aku merebahkan diri sambil memeluknya karena kecapekan.
“Jeff.. Gila kamu, ngapain kamu ama adikku..!!” terdengar suara yang sangat mengagetkanku, mataku langsung kubuka dan aku bingung setengah mati melihat Lika ada 2.

Dengan perasaan bingung kutoleh bergantian wajah mereka satu persatu, ya ampun mirip sekali keduanya, cuma yang membedakan satu wajahnya terlihat marah dan satunya lagi terlihat ketakutan.

“Lho.. Lika ku yang mana..?”, kataku kebingungan

Akhirnya aku tahu kalau aku telah bercinta dengan adiknya dan Lika memaafkanku karena sebelumnya gak mengatakan padaku kalau dia itu kembar. Kami berdua tetap pacaran walaupun Lika tak tahu kalau aku juga masih sering bercinta dengan adiknya. Jadi yang membuatku bisa membedakan Lika dengan adiknya adalah hanya tahi lalat mungil yang ada di lehernya.

Sunday, November 4, 2018

0

Beruntungnya Mendapatkan Murid Cantik Dan Seksi Yang bisa Di ajak Bercinta


Cerita Seks Beruntungnya Mendapatkan Murid Cantik Dan Seksi Yang bisa Di ajak Bercinta^_^ Pagi itu sinar matahari belum mampu mengusir embun putih yang menyelimuti sebuah villa mewah di kawasan Puncak Pass. Beberapa gerombol embun masih terlihat melayang-layang tertiup angin. Pucuk-pucuk pinus masih berwarna putih tertutupi embun pagi. Rumput di halaman villa masih basah.

Di dalam bathtub yang berisi air hangat, Barry dan Mindi duduk berendam sambil berpelukan mesra. Gadis itu duduk di atas paha Barry. Telapak tangannya mengusap-usap menyabuni punggung guru matematikanya itu, dan ia pun merasakan tangan lelaki itu menyabuni punggungnya.

Pelukan mereka sangat erat hingga dada mereka saling menekan satu sama lain. Sesekali Mindi menahan nafas ketika menggeliatkan badannya. Dadanya yang menggeliat menyebabkan puting buah dadanya mengalirkan birahi ke sekujur tubuhnya. Puting itu semakin mengeras setelah beberapa kali bergesekan dengan dada Barry yang licin dipenuhi buih-buih sabun.

Pangkal pahanya yang terendam air hangat terasa membakar birahi ketika batang kemaluan lelaki itu menyentuh vagina sempit nya. Mindi menggerak-gerakkan telapak tangannya dari punggung hingga ke leher Barry. Sambil menyabuni, ditariknya tengkuk lelaki itu.

“Mindi sangat mencintai Barry,” bisiknya.

Barry mengusap-usap bahu gadis itu dengan busa sabun yang berlimpah. Busa dan buih-buih berbentuk bola-bola kecil meleleh ke bagian atas dada dan punggung Mindi. Lalu ditatapnya wajah yang cantik itu. Wajah yang terlihat semakin menarik karena buih-buih sabun memenuhi lehernya yang jenjang. Disibaknya rambut gadis itu ke belakang. Busa dan bola-bola kecil ikut menempel di rambut gadis itu, kemudian bola-bola itu meletus. Sangat cantik dan mempesona, bisik hati Barry.


Mungkinkah aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?, tanya Barry dalam hati. Jatuh cinta terhadap seorang murid yang masih belia dan nakal? Mengapa? Mengapa..? Apakah karena sensasi dan kemanjaan yang diciptakannya? Aaah.., gumam Barry sambil menarik nafas panjang.

Lalu dikecupnya di kening gadis itu. Ia tak mampu memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Tingkah laku Mindi yang lembut dan kadang-kadang liar telah melumpuhkan nalarnya. Ia tak mampu berpikir ketika luapan birahi membakar tubuhnya.
“Barry juga sangat mencintai Mindi. Sebelumnya tak pernah Barry rasakan nikmatnya terbakar birahi seperti saat ini..” ujar Barry.

Bola mata mereka saling menatap seolah ingin menjenguk isi hati masing-masing. Lalu Barry menarik tubuh gadis itu agar lebih erat menempel ke tubuhnya. Disabuninya punggung gadis itu dengan kedua telapak tangannya. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, telapak tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Diusap-usapnya bongkah pantat gadis itu.

Sejenak, ia menahan nafas ketika meremas bongkah pantat yang masih kenyal itu. Karena gadis itu duduk di atas pahanya, bongkah pantat itu terasa lebih kenyal daripada biasanya. Batang kemaluan Barry semakin keras ketika bersentuhan dengan vagina sempit gadis itu.

Ia dapat merasakan kelembutan bibir luar vagina gadis itu ketika bergesekan dengan bagian bawah batang kemaluannya. Dan dengan usapan lembut, telapak tangannya terus menyusuri lipatan bongkah pantat yang kenyal itu. Ia dapat merasakan lubang dubur Mindi di jari tengahnya. Diusap-usapnya beberapa kali hingga ujung jarinya merasakan kehalusan lipatan daging antara dubur dan vagina.


“Barry.., Barry nakal!” desah Mindi sambil menggeliat mengangkat pinggulnya.

Walau tengkuknya basah, Mindi merasa bulu roma di tengkuknya meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir dari vaginanya. Ia menggeliatkan pinggulnya. Geliat itu menyebabkan telapak tangan Barry semakin bebas mengusap-usap. Membelai. Ia mengecup leher Barry berulang kali ketika merasakan ujung jari Barry menyentuh bagian bawah bibir vaginanya.

Tak lama kemudian, telapak tangan itu semakin jauh menyusur hingga akhirnya ia merasakan lipatan bibir luar vaginanya diusap-usap. Mindi berulang kali mengecup leher Barry. Kecupan panas dan liar sebagai ungkapan luapan birahi yang mendera tubuhnya. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas. Ia dapat merasakan lendir birahi yang semakin banyak bermuara di vaginanya.

Karena vaginanya terendam dalam air, usapan-usapan di dinding dan bibir dalam vaginanya terasa menjadi kesat. Setiap kali mengusap, lendir di vaginanya langsung larut ke dalam air. Ujung jari itu menjadi terasa lebih kasar daripada biasanya.

Membakar birahi untuk mengalirkan kadar kenikmatan yang lebih tinggi daripada biasanya. Kenikmatannya hampir setara dengan liarnya lidah Barry yang menari-nari di antara lipatan bibir vaginanya ketika mencumbu vaginanya di balkon villa. Ia terpaksa menahan nafas untuk mengendalikan kenikmatan yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.

“Aaaaaagghh.. Sseessstt.. Sseeesssstt..” rintihnya berulang kali.

Lalu ia bangkit dari pangkuan lelaki itu. Ia tak ingin mencapai orgasme hanya karena usapan-usapan jari yang terasa kesat di lubang vagina sempit nya. Tapi ketika berdiri, kedua lututnya terasa goyah. Rasa nikmat di vaginanya telah membuat dirinya seolah sedang melayang-layang. Lututnya seolah kehilangan sendi.


Baca Juga : Pengalaman Pertama Bersetubuh Dengan Pria Yang Baru Aku Kenal Tak Lama

Dengan cepat Barry pun bangkit berdiri. Tangannya segera membalikkan tubuh gadis itu. Ia tak ingin gadis belia yang dicintainya itu terjatuh. Disangganya punggung gadis itu dengan dadanya. Lalu dituangnya kembali cairan sabun ke telapak tangannya.

Dan diusap-usapkannya cairan sabun itu di perut gadis belia itu. Ketika menggerakkan telapak tangannya ke arah atas, busa sabun terdorong dan menggumpal di antara jari jempol dan telunjuknya. Dan ketika buih-buih itu terbentur pada lekukan bawah buah dada gadis itu, ia meremasnya dengan lembut.

Kedua buah dada yang kenyal itu terasa licin dan sangat halus. Telapak tangannya terus bergerak ke atas. Ia sengaja membuka jari jempol dan telunjuknya agar puting buah dada yang masih kecil itu terjepit di jarinya. Sejenak, puting yang terjepit itu diremas-remasnya dengan lembut. Puting kiri dan kanan diremasnya bersamaan. Dilepas. Diremas kembali. Lalu telapak tangannya mengusap semakin ke atas dan berhenti di leher jenjang gadis belia itu.

“Barry, aaaaaaaahhh.., lama amat menyabuninya, aaaaahh..” rintih Mindi sambil menggeliatkan pinggulnya. Ia merasakan batang kemaluan Barry semakin keras dan besar. Hal itu dapat ia rasakan karena batang kemaluan itu semakin dalam terselip di antara lipatan bongkah pantatnya. Lalu ia mendongakkan kepala sambil menoleh ke belakang.

Diangkatnya tangan kanannya untuk menarik leher lelaki itu, lalu diciumnya dengan mesra. Lidahnya menjulur dan bergerak-gerak liar untuk memilin-milin lidah Barry. Tangannya kirinya meluncur ke bawah, lalu meremas biji kemaluan lelaki itu dengan gemas.


Barry menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal paha Mindi. Sesaat ia mengusap-usap bulu-bulu ikal di bagian atas vagina gadis itu. Menikmati bulu-bulu yang masih pendek dan halus itu di ujung jari-jarinya. Lalu telapak tangannya meluncur ke bawah. Diusapnya vagina sempit itu berulang kali.

Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar vagina itu. Diusapnya berulang kali. Telapak tangannya yang dipenuhi buih-buih sabun membuat bibir vagina dan pangkal paha itu menjadi sangat licin. Klitoris itu seolah bergerak menggeliat-geliat ketika ia mengusapkan telapak tangannya. Klitoris yang semakin keras dan licin karena lendir dan buih-buih sabun.

“Aaaaaaahhh..!” rintih Mindi ketika merasakan batang kemaluan lelaki itu semakin kuat menekan lipatan bongkah pantatnya.

Ia merasakan lendir birahinya membanjiri vaginanya. Lendir itu pasti bercampur dengan busa sabun, pikirnya. Lalu ia berjongkok agar vaginanya terendam ke dalam air. Dibersihkannya celah di antara bibir vaginanya dengan cara mengusap-usapkan dua buah jarinya.

Ketika menengadah, ia melihat batang kemaluan Barry telah berada persis di hadapannya. Batang kemaluan itu telah membengkak dan terlihat mengangguk-angguk. Ada setetes lendir menghiasi ujung batang kemaluan itu. Persis di bagian tengah cendawan yang berwarna kecokelat-cokelatan itu. Indah sekali, gumamnya. Lalu ditatapnya warna kemerah-merahan di lekukan antara cendawan dan batang kemaluan itu. Bola matanya berbinar-binar mengamati lekukan yang indah itu.

Setelah puas mengamati, diremasnya batang kemaluan itu dengan lembut. Lalu diarahkan ke mulutnya. Dikecupnya bagian ujung cendawan itu. Terdengar bunyi ‘slep’ ketika ia melepaskan kecupannya. Setetes lendir yang menghiasi ujung cendawan itu berpindah ke bagian dalam celah kedua bibirnya. Sejenak, matanya terlihat setengah terpejam ketika ujung lidah dan kedua bibirnya mencicipi lendir itu.


Tubuh Barry bergetar menahan nikmat ketika ia melihat lidah dan bibir Mindi bergerak-gerak mencicipi lendirnya. Dicicipinya dengan penuh perasaan! Erotis sekali! Batang kemaluannya menjadi semakin keras. Berdiri tegak! Ia meraih bahu gadis itu karena tak sanggup lagi mengendalikan tekanan darah yang memenuhi urat-urat di batang kemaluannya.

Setelah berdiri, Mindi merasakan telapak tangan Barry mengangkat paha kirinya. Sambil mencium bibirnya, telapak tangan itu tetap menahan bagian belakang pahanya hingga akhirnya ia terpaksa melilitkan kakinya di pinggang lelaki itu. Ia masih berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya ketika Barry menyelipkan cendawan kemaluannya ke celah di antara bibir vagina sempit nya. Karena tubuhnya masih belum seimbang, cendawan itu terlepas kembali.

Barry agak menekuk kedua lututnya ketika berusaha menyelipkan kembali cendawan kemaluannya. Ia sudah sangat ingin merasakan kembali vagina yang sempit itu meremas batang kemaluannya. Nafasnya mendengus-dengus tak teratur. Dengan terburu-buru, ia mendorong pinggulnya.

“Aaaauwww, aaaaaahhhh.., Barry!” rintih Mindi.
“Masih sakit?” tanya Barry.
“Sakit dikit..” jawab Mindi.

Barry menarik batang kemaluannya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Sambil mendorong, ia menatap vagina sempit gadis itu. Pandangannya nanar seolah ada kabut yang menutupi bola matanya ketika ia melihat bibir luar vagina gadis itu ikut terdorong bersama batang kemaluannya. Ia masih menatap terpesona ketika perlahan-lahan menarik kembali batang kemaluannya. Bibir luar vagina itu merekah dan seolah sengaja memperlihatkan lipatan celah vagina yang berwarna pink!


“Masih sakit, Sayang?”
“Heemm!”
“Sakit?”
“Enaak.., Barry!”

Barry tersenyum. Dilumatnya bibir gadis itu sambil menghentakkan pinggulnya. Dengan cepat, batang kemaluannya menghunjam. Ia menghentikan hentakan pinggulnya dan berdiri kejang setelah merasakan mulut rahim gadis itu tersentuh oleh ujung cendawannya.

Lalu ditatapnya raut wajah murid yang dicintainya itu sekaligus dikaguminya! Selain cantik dan dan seksi, muridnya itu pun tak pernah bertanya atau membantah ketika ia menghunjamkan kemaluannya sambil berdiri. Murid yang patuh sekaligus mempunyai ide-ide liar yang sensasional dalam bercinta.

Mungkin muridku ini memang dikaruniai bakat bercinta, kata Barry dalam hati. Bakat untuk menaklukkan lelaki! Alangkah beruntungnya aku menjadi gurunya! Perlahan-lahan Barry menarik batang kemaluannya. Sebelah tangannya meremas bongkah pantat gadis itu dan yang sebelah lagi meremas dada.

“Aaaaaahhhh..!” rintih Mindi ketika merasakan batang kemaluan Barry kembali menghunjam vaginanya.

Ia terpaksa berjinjit karena batang kemaluan itu terasa seolah membelah vaginanya. Kedua tangannya dengan erat merangkul leher Barry. Ia ingin menggantung di leher lelaki itu. Lututnya terasa lemas menahan kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhnya. Panasnya birahi membuat pori-pori di sekujur tubuhnya menjadi terbuka. Butir-butir keringat mulai merembes dari pori-porinya, bercampur dengan busa sabun yang masih tersisa di beberapa bagian tubuhnya.


Semakin sering ujung cendawan kemaluan lelaki itu menyentuh mulut rahimnya, semakin banyak pula keringat merembes di sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya keringat itu terlihat mengkristal di kulitnya! Nafas Mindi beberapa kali terhenti ketika Barry menarik dan menghunjamkan batang kemaluannya.

Menarik dan menghunjam dengan cepat hingga terdengar ‘cepret cepret’ yang merdu setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pangkal paha Barry. Dan setiap kali mendengar suara ‘cepret’ itu, darahnya seolah terasa berdesir hingga ke ubun-ubun.

“Aaaaahhh.., aaaaaahhhh.., Barry!” Cerita Terpanas
“Barry.., Mindi pipiiiis..!”

Rintihan itu membuat Barry semakin cepat menghentak-hentakkan pinggulnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Ia berusaha menahan nafas untuk mengendalikan tekanan air mani yang ingin menyemprot dari lubang batang kemaluannya.

Tapi orgasme gadis belia yang sangat dicintainya itu ternyata membuat ia tak mampu lagi menahan tekanan air mani yang mengalir dari biji kemaluannya. Vagina sempit itu berdenyut-denyut meremas batang kemaluannya. Menghisap air mani yang masih tertahan di batang kemaluannya. Membuat ia tak berdaya untuk mengendalikan desakan air mani yang menyemprot dari lubang batang kemaluannya.

“Aaaaaahh..! Aaaaahh..! Mindi sayanggg, aaaaaahh..!” raung Barry sambil menghujamkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya.
“Barry.., ssseesstt, ssseeeesstt..” desis Mindi berulang kali ketika merasakan air mani lelaki yang sangat dicintainya itu meluncur ke mulut rahimnya.


Semprotan yang pertama terasa panas dan menggetarkan hingga membuat tubuhnya berdiri kejang dan punggungnya melengkung ke belakang. Semprotan kedua dan ketiga membuat ia semakin berjinjit setengah bergantung di leher Barry.

“Aaaaaahhhh.., Mindi! Aaaah...Oooohhhh., enaknya!” rintih Barry di telinga murid yang sangat disayanginya itu.
“Barry.., ssssseessstt.., sssseeeessstttt..!” desis Mindi pula berulang kali sesaat setelah lepas dari puncak orgasmenya.

Kedua telapak tangan Barry memangku bongkah pantat Mindi. Telapak tangannya masih dapat merasakan kedutan-kedutan di bongkah pantat itu ketika gadis itu mencapai puncak orgasmenya. Dan dengan tenaga yang masih tersisa di tubuhnya,

di tarik bongkah pantat yang kenyal itu agar mereka tak terjatuh. Ia tak ingin gadis itu terjatuh karena ia masih ingin batang kemaluannya tetap terbenam dalam kelembutan vagina sempit itu. Vagina yang sangat dikaguminya, muda, segar, dan masih berwarna pink.

“Puas, Sayang?” bisik Barry sambil mengusap-usap punggung Mindi.
“Puas banget!”
“Barry sangat menyayangi Mindi.”
“Mindi juga sangat sayang pada Barry,” kata Mindi sambil mencium bibir Barry.
Mereka masih terus berciuman dengan mesra hingga batang kemaluan Barry mengkerut dan terlepas dari vagina sempit milik Mindi.

Wednesday, October 24, 2018

0

Pengalaman Pertama Bersetubuh Dengan Pria Yang Baru Aku Kenal Tak Lama


Cerita Seks Pengalaman Pertama Bersetubuh Dengan Pria Yang Baru Aku Kenal Tak Lama^_^ Panggil saja namaku Fivian. Aku baru berusia 17 tahun. Tinggiku lumayan sekitar 169 cm dan warna kulitku putih bersih. Rambutku panjang, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model dan aku belum mempunyai pacar.

Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di 1 tahun yang lalu. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Sandro. Orangnya tampan, tinggi sekitar 171 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 5 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta.

Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas 3 di SMA-ku. SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Sandro sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Sandro hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.
Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon. Selang beberapa hari kemudian, Sandro menelepon aku.

“Hallo selamat sore Fivian, ini dari Sandro.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Heemm, Fi ada acara nggak malam minggu ini.”
Aku sempat kaget Sandro mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.

“Heemmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa bisa begitu,” balas Sandro.
“Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku nggak akan terima telpon kamu lagi,” balasku lagi.

“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian aku memberikan alamat rumahku. Dan ternyata rumah Sandro tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.


Tepat hari sabtu sore, Sandro datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah setengah jam di rumah, ngobrol-ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Sandro menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.

“Fivian, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Sandro mesra.
“San, kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.”

“Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.”
“San, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.”
Tiba-tiba tangan Sandro memegang tanganku dan meremasnya kuat-kuat. ”Aku juga Fi, begitu melihat kamu langsung tertarik.”

Dan Sandro menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Sandro memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Sandro sudah ada di depan mataku dan pelan-pelan Sandro mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki.

Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Sandro dan mencium bibirnya. Ciuman Sandro sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini dan lama-kelamaan tangan Sandro mulai meraba sekitar dadaku.

“Jangan San, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu San,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Sandro karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Fi, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam 7 dan film masih ada kok.”


Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling atas. Sandro sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk dan begitu film diputar, Sandro langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Sandro meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.

Tiba-tiba Sandro membisikkan sesuatu di telingaku, “Fi, kamu membuat nafsuku naik.”

“Aku juga San,” balasku manja.

Dan Sandro menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Sandro sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan Fi, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Sandro sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.

Akhirnya tangan Sandro berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Sandro meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Sandro memegang puting susuku yang sudah keras. “Teruskan San, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka resleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain.

“Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Sandro untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Sandro yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan San, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.

“Kita langsung pulang ya Fi sudah malam,” pinta Sandro.
“San, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya sekitar jam 12 malam, sekarang masih jam 09.30, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop.


Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Sandro. Mudah-mudahan Sandro mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Sandro dengan nada gembira.

Sampai di senayan, Sandro memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Sandro menghentikan mobilnya, tiba-tiba Sandro langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Sandro begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.

Tiba-tiba Sandro melepaskan ciumannya. “Fi, aku ingin mencium susumu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Sandro. Dan kulihat Sandro begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.

“Fi, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Sandro.

“Iya, San, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar-benar aku inginkan,” balasku manja. Tak lama kemudian, Sandro dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggu-tunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.

“Jangan berhenti San, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Sandro untuk membuka resleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Sandro mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Sandro dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku.


Resleting celana Sandro sudah terbuka dan tiba-tiba Sandro menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Sandro dan Sandro menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Sandro yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Sandro masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Sandro menggigit puting susuku.

“San, teruskan ya sayang… jilat aja San, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus memegang penis Sandro dan sepertinya Sandro makin bernafsu dengan permainan seksnya akhirnya Sandro sudah tidak tahan lagi.

“Fi, kamu isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”

Sebenarnya aku masih bingung tapi karena penasaran apa yang diinginkan Sandro, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Sandro merubah posisi duduknya, Sandro menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Sandro.
“San, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja Fi, aku sudah tidak tahan..”

Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Sandro. Inilah pertama kali aku melihat memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Sandro. Sekali-kali kujilati dengan lidahku dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Sandro. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Sandro aku jilatin terus, Ah… benar-benar nikmat.


Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Sandro, tiba-tiba, Sandro menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus Fi, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Sandro mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Sandro. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku.

Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Sandro dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Sandro. Aaah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Sandro. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku dan Sandro kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.

“Fi, aku sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali San, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa Fi..”

Baca Juga : Berawal Dari Sales Penjual Kosmetik Kecantikan Hingga Menjual Diri

Kemudian Sandro mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Sandro dan Sandro mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11.30 malam. Dan aku diantar oleh Sandro hampir jam 12. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur.

Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya dan malam itu aku masih teringat akan penis Sandro yang besar. Dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.


Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah. Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Sandro menjemputku dan Sandro membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.

“Tempat apa ini San,” tanyaku.
“Fi, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih aman tentunya lebih leluasa. Kamu mau?.”
“Entahlah San, aku masih takut tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”

Sampai di garasi mobil kami keluar dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.

“Fi, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Sandro.

“Aku setuju saja San, terserah kamu.”

Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Sandro membaringkan badanku di tempat tidur. “Fi, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Sandro berdiri di depanku dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya.


Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Sandro daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Sandro lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Sandro sudah terlihat bugil di depanku. Sandro memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Sandro menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai.

Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai dan pelan-pelan tangan Sandro mengelus susuku yang sudah keras. Lama-kelamaan tangan Sandro sudah mencapai restleting celanaku dan membuka celanaku. Menurunkan celana dalamku aku masih posisi berdiri, dan Sandro jongkok tepat di depan vaginaku. Sandro memandangku dari arah bawah sambil tangannya memeluk pahaku.

“Fi, body kamu bagus sekali.”

Sandro sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“Fi, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”
“Terserah kamu San, aku tidak peduli tentang perawanku aku ingin menikmati hari ini denganmu berdua dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..”

Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Sandro. Kemudian Sandro meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil dan tidak ada batasan lagi antara kami. Sandro bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Sandro. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri.

Sandro menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Sandro sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Sandro membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Aaah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Sandro sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar.


Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Sandro sambil meremas susuku dan memainkan putingku aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Sandro sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.

Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi kukatakan pada Sandro. “San, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan-pelan,” pintaku. Sandro lalu bangkit dari arah bawah dan menciumi bibirku. “Fi, kamu sudah siap aku masukkan apa kamu tidak menyesal nantinya.” “Tidak San, aku tidak menyesal.

Aku sudah siap melakukannya.” Lalu Sandro melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Sandro yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali dan kubimbing penis Sandro agar tepat masuk di lubang vaginaku.

Pertama-tama memang agak sakit tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Sandro berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.

“Ooooh… enak sekali,” jeritku. Cerita Terpanas

Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Sandro. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Sandro, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Sandro membisikkan sesuatu di telingaku, “Fi, kamu sudah tidak perawan lagi.”

“Ngga apa-apa San, jangan dilepas dulu ya…”


“Terus San, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah Sandro di atas, kami melakukannya lama sekali. Sandro terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Sandro masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Sandro sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.”

“Keluarin terus Fi, aku tidak akan melepaskan punyaku.”
“San, aku tidak tahan lagi… AAaaaahh… aaaaahh.. aku keluar San, aku keluar.. keluar San..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaaaaahhh… Oooohhh..” Pada saat orgasme yang pertama, Sandro langsung menciumi bibirku. Oh… benar-benar luar biasa sekali enaknya.

Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Sandro dan aku masih memeluk badan Sandro. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“Fi, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi 69. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu.”

Kemudian kami berubah posisi 69. Sandro bisa sangat jelas mengisap punyaku dan kelihatan kliotorisku yang sangat berdenyutan.
“Fi punyamu lebar sekali.”
“Isap terus San, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”

Aku terus mengisap punya Sandro sementara Sandro terus menjilati vaginaku dan kami melakukannya sangat lama sekali. Penis Sandro yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya dan permainan mulut Sandro di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin ku akhiri.


“San… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi sayaangg…”

“Tahan sebentar Fi, aku juga mau keluar..”

Tiba-tiba Sandro langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas dengan cepat Sandro melebarkan kakiku, dan oooh.. ternyata Sandro ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Sekali lagi Sandro memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Sandro yang besar.

“Dorong yang keras San, lebih keras lagi,” desahku. Sandro menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya San, seperti itu… terus… aaaaaghhh..aaaaaghhh… enak sekali, aku mau melakukannya terus menerus denganmu..”
“Fi, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…”

“Aku juga San, sedikit lagi, kita keluar sama-sama ya… aaaaaaghhh..”
“Fi… aku keluar..” Croot... croottt...crroooootttt.....
“Aku juga San… aaaaahhh… aaaaaahhh… terasa San, terasa sekali hangat spermamu..” 
“Aduh, Fi… goyang terus Fi, punyaku lagi keluar…”

“Aduh San… enak sekali…”

Bibirku langsung menciumi bibir Sandro yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.

“Fi… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia sayang…”
Tidak lama kemudian, Sandro membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“Fi, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.”
“Iya San..” jawabku singkat.

Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi dan aku mengalami kenikmatan sampai 2 kali. Sekali keluar pada saat Sandro menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Sandro memasukkan penisnya ke vaginaku. Sandro pun mengalami hal yang sama.


Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kami melakukannya berulang kali dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai 1 jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa, Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitung-hitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 9 kali orgasme. Kalau hanya sekedar diisap oleh Sandro hanya 3 kali jadi, sudah 12 kali aku keluar. Sementara Sandro sudah 8 kali.

Malamnya tepat jam 09.00 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu 2 hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Sampai sekarang hubunganku dengan Sandro bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja.

Baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 16 aku datang bulan dan kemarin tanggal 16 ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Sandro sepulang dari sekolah.

“San, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.”
“Iya sayang… syukurlah…”
“San, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau San..”

Ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Sandro sambil dia menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Setelah cairan sperma Sandro keluar yang tentunya semua kutelan karena sudah terbiasa, setelah itu tangan Sandro memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Sandro, tapi aku mengisap kepunyaan Sandro sebelum turun dari mobil hanya sekitar 3 menit Sandro sudah keluar.

Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Sandro langsung mengajakku ke penginapan.

Monday, October 22, 2018

0

Berawal Dari Sales Penjual Kosmetik Kecantikan Hingga Menjual Diri


Cerita Seks Berawal Dari Sales Penjual Kosmetik Kecantikan Hingga Menjual Diri^_^ Panggil saja aku Fenny, usiaku 22 tahun aku memiliki berat badan 52kg dengan tinggi 167cm. Tubuhku ideal orang bilang aku cantik dengan rambut panjang yang indah. Aku mahasiswa komunikasi semester 4, sampai saat ini aku belum juga wisuda. Aku jarang masuk kuliah karena malas, sudah 4 tahun aku kuliah tetapi berhenti begitu saja.

Aku tipe orang yang malas berfikir dan pastinya banyak presentasi membuat aku semakin enggan untuk berangkat kuliah. Aku hanya berfoya-foya membohongi orangtuaku, uang semesteran jarang aku bayarkan. Uang saku selalu aja minta lebih, ada saja yang harus dibayarkan. Setahun dua tahun orangtuaku percaya tetapi setelah ada surat peringatan dari kampus, aku ketahuan.

Orangtuaku mengetahui bahwa aku sudah lama sekali tidak pernah berangkat kuliah. Aku pamit kuliah sampai kost aku selalu pergi main dengan teman-temanku. Tiada hari tanpa bermain, padahal aku selalu minta transferan uang saku setiap hari. Ada aja alasan uang jajanlah uang kostlah uang ngerjain scripsi lah. Semua selalu diberikan orangtua, karena aku anak bungsu.

Anak kedua dari dua bersaudara, kakakku sudah berumah tangga. Maka dari itu orangtuaku selalu saja memanjakanku, pada akhirnya surat pernyataan itu sampai ke rumah. Orangtuaku dipanggil di kampus mereka sangat kecewa dengan ku karena aku telah membohonginya. Bahkan aku seharusnya semester akhir masih saja duduk di semester 4.


Keluarga marah besar denganku, semua orang memaki ku. Mama pun menjemput aku di kost tanpa basa-basi langsung mengajakku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku dilontarkan berbagai macam pertanyaan hingga aku menangis. Aku pun dikunci di kamar agar tidak bisa kemana-mana. Selama seminggu orangtuaku mengurungku di kamar, aku merasakan hal yang suntuk.

Rasanya ingin kabur dari rumah namun tidak bisa karena dikunci dari luar. Di dalam tanpa HP dan laptop, makan pun diantar pembantu ke dalam. Udah kayak tahanan aja, berasa disekap di kamar. Aku sangat kesal dan baru ingat kalau aku memiliki kunci cadangan. Aku mencoba membuka kunci itu tapi tidak bisa aku pun memaksa hingga akhirnya bisa terbuka.

Jam segini orangtuaku masih kerja yang ada hanya pembantu saja. Aku segera memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa beberapa bajuku. Aku lewat pintu belakang dan aku segera berlari keluar. Aku menaiki angkutan dan turun di dekat kostku, aku mengambil beberapa pakaianku. Aku menghubungi temanku dengan HP teman kostku.

Kemudian temanku menjemputku di tempat biasa, aku pun menginap di kost teman yang sangat jauh dari kampus. Orangtuaku tidak pernah tau kost temanku, Akira namanya. Dia teman nakalku, aku kerap diajak clubbing dan jalan-jalan dengannya. Aku pun minta solusi dengannya, agar aku dicarikan pekerjaan. Dia menyarankan aku untuk menjadi seorang sales.


Aku pun enggan dengan keras aku menolaknya. Aku malu karena sales itu rendahan bagiku, tetapi setelah Akira memberikan pengertian kepadaku aku pun berfikir kembali. Sales kosmetik kemudian ditawarkan di rumah-rumah jika dapat konsumen banyak maka aku mendapatkan bonus. Dulu Akira berawal dari sales dan kemudian dia sekarang dia menjadi selingkuhan pengusaha.

Latar belakang Akira tidak jauh beda denganku, malah lebih parah Akira. Aku pun setuju dengan tawaran Akira, yang penting aku dapat uang.  Singkat cerita, aku menjadi seorang sales kosmetik yang menawarkannya dari rumah ke rumah. Awalnya susah sekali, namun kosmetik yang aku bawa ini banyak sekali peminatnya. Bonus yang aku dapat nyata sangat banyak.

Baru satu minggu aku mendapatkan bonus banyak, memang semua butuh pengorbanan. Tetapi aku memiliki pengalaman yang sangat buruk di minggu ke dua aku bekerja. Aku menawarkan kosmetik disebuah rumah besar dikompleks perumahan. Aku memberanikan diri masuk ke perumahan elite, siapa tahu orang kaya juga minat dengan kosmetik yang aku bawa.
Aku masuk ke rumah paling ujung berwarna hijau segar. Aku mengetuk pintu dan berteriak salam,
“perrrmisssiiii…..” ucapku dengan lantang.

Aku pun menunggu sangat lama sekali di teras rumah itu. Aku tidak sabar dan segera melangkahkan kaki ku untuk keluar dari rumah itu. Baru dua langkah aja, terdengar ada yang membuka pintu. Aku pun kembali ke depan pintu itu,
“cari siapa mbak?” ucap pria separuh baya itu.


“hmmmm,, ini pak saya mau menawarkan kosmetik, ibunya ada pak?”
“oohh… ya silahkan masuk….” Pria itu memandangiku dengan tajam.
Dia lama sekali menyuruhku masuk hingga akhirnya dia meminta aku untuk duduk di ruang tamu. Setelah 10 menit ngobrol istrinya tak kunjung datang, aku merasa tidak nyaman.

Karena pak Gino itu terus memandangiku. Baju yang aku kenakan sangat sexy sekali, dia melotot tiap kali aku menggerakkan badanku. Aku seperti mencium kecurigaan dengan cara memandang bapak itu. Aku pun berpamitan dengan pak Gino karena lama sekali istrinya belum datang. Tiba-tiba dengan lantang dia berbicara.

“berapa gajimu sehari?”
“tidak pasti pak, sesuai berapa jumlah peminatnya…”
“gimana kalau kamu aku gaji? Asal kamu mau melayaniku…”

“jangan main-main dengan saya pak, memangnya bapak berani bayar berapa ? asal aja kalau ngomong…” ucapku dengan nada marah.
“berapa yang kamu minta, kalau hanya sekedar sales jangan pasang tarif tinggi..”



Aku semakin garang ketika dia melecehkan pekerjaanku. Aku pun menantangnya dengan harga yang tinggi, dia pun mengiyakan. Dan mengambilkan uang di kamarnya, dia berikan kepadaku. Aku langsung saja terkejut melihat uang sebanyak itu. akhirnya aku menyetujui permintaannya. Aku pun melayani bapak tua itu dengan imbalan yang besar.

Aku diajak ke kamarnya, aku ditidurkan di ranjang. Dengan sigap dia menciumi bibirku, rasanya jijik ciuman dengan pak tua itu. Tapi apalah daya demi uang aku harus rela memberikan tubuhku yang mulus dengannya. Ketika dia menciumi bibirku aku terpejam, nggak mau lihat mukanya. Bisa-bisa aku nggak nafsu dengannya, ciuman itu lembut semakin lama aku semakin merasakan kenikmatan.

Bibirku yang tipis dikulumnya, kumis yang tebal membuat aku geli merasakannya. Setelah itu kemeja putihku dibuka dengan perlahan. Aku menggerakan tubuhku, braku yang berukuran 36B itu terlihat jelas. Dia langsung menciumi payudaraku dan meremasnya,

“aaaaaaahhhhhhh aaaaaaakkhh…….”

Remasannya keras tapi nikmat, dia menciumi leherku. Aku merasa horny, dari atas hingga ke bawah dia menciumi tubuhku. Bulu kudukku berdiri merasakan kenikmatan itu, aku pun menikmatinya. Tangannya melepaskan pengait braku, mukanya tepat didepan payudaraku. Seakan bersiap untuk memangsa payudaraku yang sangat montok,


“aaasshhhh… aaaaahhhhhhhh… ooohhh… aaaahhhhhh….”
Kedua tangannya meremas payudaraku dan dia mendekatkan bibirnya di putting ku. Lidahnya menjilati puting susuku yang menegang itu. Terus dia kulum puting susuku hingga aku lemas tak berdaya, jarinya memutar-mutar puting susuku hingga tubuhku mengejang,

“ooohhh… aaahhhhh… oohhh… aaaakkkhhh…….”
Aku terus mendesah karena pak Gino bisa membuat aku bergairah. Awalnya aku hanya berniat untuk melayani saja, tidak lebih. Tetapi aku sangatlah horny dibuatnya, apalagi saat dia meremas payudaraku. Setelah beberapa menit menikmati payudaraku yang sangat bohay itu dia menciumi tubuhku dari atas hingga ke pusar.

Sampai lah pada kenikmatan yang sesungguhnya, dia membuka celanaku. Memekku yang terlihat besar dengan balutan celana dalam itu membuat dia semakin penasaran. Dibukalah celana dalam itu dan dia melihat memekku yang rimbun akan bulu kemaluan itu. Aku lupa tidak mencukur bulu kemaluanku jadi terlihat sangat lebat.

Kakiku mengangkang lebar dan dia menjilati selakanganku, tubuhku menggeliat,
“aaaaaaahhhhh…… aaaaaahhhhhh…..nikmat… aaaaaahhhhh…….”

Jarinya membuka memekku yang rimbun akan bulu kemaluan. Dia buka bagian demi bagian sehingga membuat aku semakin bergairah. Aku melihat wajah pak tua itu dia sangat horny, nafsunya tinggi sekali dan juga pandai memainkanku. Tangannya membelai memekku dengan lembut, tubuhku bergerak merasakan kenikmatan itu.


Lalu jarinya masuk ke dalam memekku, perlahan dan masuklah jari itu. Di putar-putar jarinya di dalam memekku sehingga aku menjerit merasakan kenikmatan,

“ooohhhh… aaahhh… oooohhh aaahhhh…..” Cerita Terpanas

Tubuhnya yang kekar menempel di tubuhku yang mulus. Puting susuku menempel didadanya membuat semakin bergairah. Nafsu itu seketika meracuni pikiranku, tubuhku bergetar merasakan kenikmatan. Denyut jantung berdenyut lebih cepat, tidak biasanya. Padahal dulu ngeseks sama mantan-mantan aku juga nggak se nervous ini.

Aku mengeluarkan cairan dari memekku mungkin aku sedang masturbasi. Setelah memekku basah dia mencoba menggesekk-gesekkan penisnya dengan memekku. Dia mencoba memasukkan penisnya ke dalam memekku,

“aaaaassshhh… aaaaaaaaaaaaahhhh….oooohhhh….aaaaahhhhhhh………”
Setelah itu ujung penisnya masuk ke dalam memekku. Secara perlahan pula dia menekan penisnya agar bisa masuk seluruhnya ke dalam memekku. Aku merasakan penisnya mentok masuk ke dalam memekku. Dia terus menekan dan menggoyang-goyangkan penisnya. Bibirnya masih mengulum puting susuku, rasanya sudah di ubun-ubun kenikmatan itu tiada tara.


Mulutnya aktif menciumi bibirku dan menciumi puting susuku. Putingku yang menonjol itu memerah membuatnya semakin gemas denganku. Karena dia terlihat gemas dengan putingku , dia mengigit hingga aku berteriak.  Mulutnya yang asik mencium bibirku, jarinya juga meremas-remas payudaraku hingga aku lemas tak berdaya.

“aaaaakkkhhhh….aaaahhh…..ooohhh… nikmat….”
Penisnya keluar masuk sesuka hatinya, aku memegang pinggangnya. Untuk menjaga keseimbangan aku terus pegang pinggang pak Gino yang naik turun itu. Pantatku aku gerakan dan sedikit aku goyangkan agar lebih nikmat.

“ooohhhhhh…aaaaaakkhh…aaaaahhh……ooohh……..”
Pak Gino hidung belang itu semakin bergairah dengan memerah wajahnya. Keringat bercucuran membasahi tubuhku, rasanya sudah memuncak. Apalagi aku beberapa kali mengeluarkan cairan dari memekku. Semakin cepat dia memompa memekku , cairan semakin banyak keluar membuat jalan kenikmatan itu semakin licin. Tak lama kemudian,

“ccroooottttt…….ccrrooootttt…..ccrrooooooottttt…….”
Sperma yang banyak dan kental itu membasahi tubuhku. pak Gino tampaknya sangat puas menikmati daun muda sepertiku. Setelah dia merasakan kenikmatan aku pun diminta segera pergi dari rumahnya dengan memberiku uang seperti perjanjian tadi. Aku pun berberes dan memakai bajuku kembali. Aku segera keluar dari rumah itu, itulah kisahku menjadi sales selama 2 minggu niatnya menawarkan produk kecantikan berujung seks dengan pria tua. Sekian.