Cerita Seks Pengalaman Pertama Bercinta Dengan Gadis Perawan Cantik^-^ Namaku Herry, aku tinggal di kota Sukabumi yang sekian lama tidak berkunjung ke salah satu sohipku yang sudah lengket banget boleh dibilang dulu kayak prangko, nempel mulu. Hem…! Gimana ya keadaannya sekarang apakah sama seperti tahun sebelumnya atau dia sudah mengalami perubahan yang signifikan, Ah tak tahu rasa penasaranku semakin menguat, ingin cepat-cepat bertemu dia pokoknya, langsung kemas2 ke esokan paginya aku langsung berangkat. Keesokan harinya aku pergi ke Surabaya untuk liburan, sambil refreshinglah. Setelah berputar-putar sebentar, sorenya aku menuju rumah temanku yang sudah sangat akrab. Keluarganya sudah sangat akrab dengan keluargaku, sudah seperti satu keluarga sejak aku lahir. Di rumah ini ada Mas Sandy yang umurnya 23 tahun, adiknya (cewek, masih SMU), sepupunya (cewek sudah sekitar 21 tahun), dan tentu saja kedua orang tua mereka. Hari itu biasa saja, tidak ada sesuatu spesial yang terjadi.
Keesokan harinya, Mas Sandy mengajakku pergi makan dan jalan-jalan di mall. Eh.., ternyata dia mengajak ceweknya. Ternyata ceweknya ini kost cuma sekitar 200 meter dari rumah Mas Sandy. Namanya Winny. Anaknya cakep juga, masih kuliah, umurnya 22 tahun. Kulitnya putih kekuningan meskipun keturunan Jawa tulen, tingginya sekitar 166 cm, beratnya 48 kg, tapi pinggulnya cukup besar, bodinya asyik juga, dan payudaranya lebih besar dari rata-rata cewek Indonesia. So, dengan mobil Panther itu Mas Sandy dan Winny duduk berdua di depan sedangkan aku yang duduk di bagian tengah dicuekin oleh mereka. Kami berputar-putar di Tunjungan Plaza, makan di sebuah restoran sea food sampai kenyang lalu kembali lagi ke tempat kos Winny.
Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat kosnya dan langsung masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek atau cowok, soalnya ada beberapa banci yang nongkrong di situ. Di dalam kamar Winny, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi coklat Silver Queen, sementara Mas Sandy dan Winny bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah.., aku juga sempat berkenalan dengan adik Winny yang bernama Kelly, yang mondar-mandir keluar masuk kamar.
Kelly bertubuh lebih pendek dari Winny, lebih coklat kulitnya, dan bodinya lebih langsing, cuma sayangnya payudara dan pantatnya juga lebih “tidak menantang” dibandingkan Winny. Setelah selesai menyetel VCD-nya sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Sandy nyeletuk, “Her.., kasih waktu 5 menit, dong..?”
Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan itu. Tapi ya terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru sampai di pintu, aku lihat di ruang tamu banyak banci yang lagi ngobrol dengan Kelly, kemudian akupun kembali ke kamar Winny.
Lalu aku berkata, “Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi tidak mood ngobrol sama orang-orang itu. Lakuin saja deh, aku tidak ngeliat”.
Terus terang saja Mas Sandy kaget, “Heh! kamu itu masih kecil gitu kok.
Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha meyakinkan mereka, “Jangan kuatir lah.., aku sudah biasa kok ngeliatin ginian..”
Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat kelihaianku berdiplomasi mereka mengijinkan juga aku untuk di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku tidak boleh macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah pintu kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan perasaan gembira.
Mas Sandy lalu tidur telentang di ranjang, lalu Winny mulai jongkok di atasnya dan menciumi wajah Mas Sandy, sedangkan Mas Sandy cuma diam saja, matanya merem, tangannya mengusap-usap punggung Winny. Sesekali Winny melihat ke arahku, mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan memang benar aku terangsang. Dan juga melihat gerakan Winny yang kelihatannya sudah “professional” dan ciuman-ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya Winny ini bukan pertama kalinya making love. Winny mulai menciumi Mas Sandy langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka bersilat lidah dan terlihat jelas karena jarakku dan jarak mereka berdua cuma sekitar 2 meter.
“Hmmhh.., hmmhh..”, mereka berciuman sambil mendesah-desah, membuatku yang sejak tadi sudah tegang memikirkan hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang saja. Setelah puas melumat bibir dan lidah Mas Sandy, Winny mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Mas Sandy ketika itu mengenakan Kaos yang di bagian kerahnya cuma ada dua kancing, so karena Mas Sandy terlalu besar badannya maka Winny cuma menyingkapkannya dari bawah lalu menciumi dadanya yang montok dan putih. Mas Sandy ini memang WNI Keturunan Chinese.
“Hmmhh.., aduh Win nikmat Win..”, begitu rintihan Mas Sandy. Winny menciuminya kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi, memang sepertinya begitu style anak yang satu ini. Sedangkan aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus menempel pada pintu.
“Ihh.., hmmh.., hh.., ihh..”, Mas Sandy terus mendesah sementara Winny mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali Mas SandySandy berteriak kecil kegelian. Karena aku sangat terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. “Sialan!” pikirku, “Ngapain juga gitu ahh..
Akhirnya Winny mulai membuka resleting Mas Sandy, pertamanya pelan sekali, namun tiba-tiba “wrett” ditarik dengan cepat sekali sehingga Mas Sandy kaget, matanya terbuka sebentar, lalu tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya mengelus-elus rambut Winny. Winny langsung memegang-megang kemaluan Mas Sandy dan digosok-gosok dengan tangannya dari luar, “Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh Winn..”, Mas Sandy cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya dari luar, dia mulai menyingkap celana dalam Mas Sandy dan tersembul lah kemaluan Mas Sandy yang sudah tegang keluar dari sarangnya.
“Nylupp!”, Kemaluan Mas Sandy langsung dikulum oleh Winny. Stylenya masih seperti tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak main seksnya. Sementara Mas Sandy sibuk meremas-remas rambut Winny saking enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk meremas-remas kemaluanku sendiri sambil tetap bersadar di pintu. Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah waktu itu, dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang membuatku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Sandy yang sepertinya keseretan gara-gara Winny tidak melepaskan celana dalam Mas Sandy terlalu ke bawah, jadi seperti tercekik deh.
“Ehmm.., Ehmm..” Mungkin sekitar 5 menit Winny mengulum kemaluan Mas Sandy, ternyata selama itu juga dia belum keluar sama sekali, Winny bilang, “Dan.., sekarang giliran kamu yah?” Mas Sandy cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil melepaskan celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Winny sekarang yang ganti tiduran, lalu memejamkan mata. Sedangkan aku benar-benar kebingungan dan tidak tahu mau berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join dengan mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.
Mas Sandy mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke Winny sebelumnya. Nyaris persis sama, aku sampai heran apa memang sudah janjian ya mereka. Mas Sandy mulai mencium bibir Winny, cuma Mas Sandy menciumnya dengan stabil, pelan terus, berbeda dengan Winny yang style seksnya aku akui lumayan unik. “Hmmh.., mymmynm..”, Sayang Mas Sandy sepertinya tidak profesional, cara menciumnya walau pelan, terlalu tergesa menuju ke bawah. Winny mencoba melepaskan Kaos Mas Sandy, lalu Mas Sandy langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Mas Sandy pun mulai menciumi leher Winny. Sementara tangannya meraba-raba payudara Winny yang aduhai, “Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup menggelikan sekaligus menggairahkan itu benar-benar membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku mulai melepaskan Kaos yang kupakai dan menggerayangi tubuhku sendiri.
Mas Sandy mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing demi kancing yang ada di kemeja yang dikenakan Winny. Tersembullah payudara Winny yang begitu aduhai, putih mulus sekali seperti payudara Chinese, Winny segera mengangkat punggungnya, lalu Mas Sandy mencopot kancing BH-nya yang berwarna hitam. Wah.., payudara Winny benar-benar besar dan menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua saling melenguh setiap kali Mas Sandy memainkan lidahnya di atas payudara dan puting susu Winny.
“Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Winny bergantian, Mas Sandy akhirnya menjilati perut Winny dan ingin melepaskan roknya. Winny mengangkat pantatnya, lalu Mas Sandy membuka resleting roknya dan pelan-pelan melepaskan rok yang dipakai Winny. Setelah sampai di lutut, Mas Sandy berhenti dan langsung menciumi kemaluan Winny yang masih tertutup celana dalam itu dengan cepat dan ganas.
“Ahh.., Ahh..”, Winny mengerang dan mendesah keras keenakan. Aku yang sejak tadi terangsang menjadi semakin terangsang mendengar desahan Winny yang sangat menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan tanganku.
Akhirnya Mas Sandy melepaskan celana dalam Winny dan langsung menciumi kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut di kemaluan Winny cukup tipis, sehingga memudahkan Mas Sandy menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp.., slurrp..”, sepertinya Mas Sandy suka sekali menyedot kemaluan Winny. “Ahh.., Dan.., Ahh.., San.., Enak San..”, desahan Winny semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar.
Tidak berapa lama kemudian, Mas Sandy berhenti lalu bertanya, “Win, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Winny cuma tersenyum dan mengangguk.
“Pelan-pelan yach..”, bisik Winny mesra. Kemudian Mas Sandy memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Winny, “Uh.., uhh.., Ahh..”, Sedikit kesulitan yang mereka hadapi, sekarang Mas Sandy sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam vagina Winny.
“Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah sambil terus melanjutkan permainannya. Winny masih tetap dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan, lalu cepat, pelan lagi.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Sandy memaju-mundurkan badannya pelan-pelan sedangkan Winny asyik menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan, aku segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku sendiri cepat-cepat.
“Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi. Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah melakukannya. Aku segera menyiram ceceran sperma di lantai kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan mandi.
Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata mereka masih saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung berjalan keluar kamar, sedangkan mereka tidak menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!
Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol dengan Kelly dan teman-temannya yang kebetulan banci semua. Mereka menawariku rokok tapi aku tolak. Setelah beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan dan bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil menunggu Mas Sandy dan Winny selesai melakukan aktivitasnya. Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.
Sekitar satu jam kemudian, muncul lah mereka berdua dari pintu kamar Winny.
“Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Sandy dan Winny tersenyum geli pertama kali melihatku, mungkin mereka menganggap tingkahku di dalam kamar tadi lucu, lalu Mas Sandy bertanya.
“Her, kamu mau ikut renang?”.
“Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku agak kecewa.
“Tidak apa-apa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana..”.
Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Sandy dan aku pulang. Di rumah kami langsung mempersiapkan segala kebutuhan renangnya.
Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat waktu Mas Sandy hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan.
Ternyata sepupu Mas Sandy, “Mobilnya mau dibawa papanya lho..”, katanya.
“Sial!” gerutu Mas Sandy. Terus akhirnya Mas Sandy telepon taksi, beberapa menit kemudian datang, lalu kami ke tempat kos Winny dulu untuk menjemput Winny. Eh, ternyata tidak hanya Winny yang ikut, tapi adiknya, Kelly, diajak serta.
Aku tanya pada Kelly, “Lho, kok kamu ikut, katanya sakit tenggorokan. Nanti ikut renang?”.
“Iya dong.., tidak apa-apa, nemenin Winny nich..” jawabnya enteng. Wah, nekat juga ini anak, pikirku.
Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada kolam renangnya yang cukup besar dan ramai, termasuk para turis. Winny, Kelly, dan aku yang belum bisa berenang cuma berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Sandy berkelana ke sana ke mari dengan bebasnya.
Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Sandy soal Winny. Ternyata dia baru kenal Winny dua minggu, dan pertemuan pertamanya di kolam renang. Seminggu kemudian mereka langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan badan. Mas Sandy baru pertama kali itu bersenggama, sedangkan Winny sepertinya sudah berkali-kali, soalnya kata Mas Sandy, Winny sudah tidak perawan lagi.
Mas Sandy juga bilang, “Kata Winny tuh sih Kelly masih perawan, dianya agak menyesal juga pacaran sama Winny, bukan sama Kelly yang masih perawan”.
Aku sempat ngobrol juga sama Kelly, yang sepertinya cuma bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai renang dalam keadaan menggigil kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Bluebird, karena entah kenapa, Graha Residen hanya menyediakan taksi Bluebird. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Sandy asyik ngobrol dengan Winny, sedangkan Kelly yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.
Ternyata Kelly ini masih SMA kelas 2. Selain suka rokok, katanya dia juga suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak berani menanyakannya, terlalu dini ah. cuma yang aku perhatikan, Kelly agak tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, dan dia tidak berani menatapku secara langsung, malah sepertinya menunduk terus. Good sign, pikirku.
Mungkin sekitar setengah jam kemudian baru taksinya datang. Lama banget sich..
Akhirnya sampai juga, setelah mengantarkan Winny dan Kelly, saya dan Mas Sandy pulang. Aku asyik memikirkan pengalamanku barusan, memperhatikan orang melakukan hubungan seks.
Sekitar jam 20.30, Mas Sandy mengajakku pergi, mau mengembalikan VCD. Ya sudah, aku ikut saja, siapa tahu diajak makan juga, berhubung perutku mulai lapar nich. Walau naik sepeda motor, kami tidak pakai helm, katanya tempat persewaan VCD-nya dekat. Eh, ternyata memang dekat sekali dan tidak melewati jalan raya. Setelah itu Mas Sandy bertanya, “Her, aku mau mampir ke tempat Winny nich.. Kamu ikut tidak?”. Walau perutku agak keroncongan, berhubung aku “kangen” juga sama Kelly, pingin ngerjain gitu, akhirnya aku setuju.
Sesampainya di sana, ternyata banyak orang nongkrong di ruang tamu rumah kos itu. Uniknya, yang cewek cuma dua, Winny dan Kelly, lainnya banci semua, ada 4 orang. Aneh sekali, pikirku. Begitu sampai, Mas Sandy langsung berciuman dengan Winny lalu mereka langsung masuk kamar dan.., klik, Aduh.., mau ngapain lagi mereka, gila bener..
Terpaksa, karena aku sudah telanjur di sana, aku ngobrol dengan orang-orang di situ. Aku sebetulnya lebih suka mengobrol dengan Kellyf
Kelly, tapi sayang teman-temannya selalu menggangguku.
“Ih kamu ganteng dech, kita main seks yuk..”. Cerita terpanas
Agak senang juga aku dipuji tapi main seks dengan mereka, mimpi saja tidak.
Lalu akhirnya aku punya ide, aku tanya Kelly, “Kamu satu kamar sama Winny, yach?”
“Tidak tuch, aku sewa kamar sendiri”, jawabnya.
Kebetulan, pikirku, “Hmm.., di mana tuch, aku lihat dong..”
Sesuai perkiraanku, akhirnya dia mau menunjukkan kamarnya. Kamarnya persis di depan kamar Winny, dan lebih tidak rapi dibanding kamar Winny
Winny. Sambil pura-pura mengamati kamarnya, aku lalu menutup pintu agar dia tidak curiga, aku langsung bertanya padanya, “Kamu suka tinggal di sini?”. Lalu akhirnya kami ngobrol dan bercanda di atas ranjangnya, bersandar di tembok. Seperti yang kuduga, dia masih terus menunduk tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, tidak seperti waktu dia ngobrol dengan teman-temannya, menguatkan istingku kalau sebetulnya dia suka padaku.
Di tengah-tengah obrolan, aku tanya, “Kelly, kamu kan suka ngerokok, apa tidak dimarahi cowokmu tuh?”.
Dia tertawa kecil, lalu menjawab, “Suka-suka aku dong, Her, aku belum punya cowo tuch..”.
Ahh.., kebetulan sekali, pikirku, lalu aku menggodanya, “Ah masa..? Aku tidak percaya ah.., Kamu kan cantik.., pasti banyak cowok yang ngelirik kamu..”
Rupanya dia agak GR juga dengan pujianku, lalu sambil ketawa lirih dia cuma bilang, “Ah kamu..”.
“Iya bener lhoh..”
Dia diam sebentar, lalu dia menoleh ke arahku, dan mulai memandangku. Aku menatapnya, lalu aku tersenyum. Kami berpandangan beberapa saat. Hmm, betapa cantiknya dia, pikirku.
Merasa ada kesempatan, segera kuarahkan tangan kananku pelan-pelan ke tangan kirinya, lalu kugenggam dan kuremas pelan-pelan. Dia agak kaget dan menghela napas panjang, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pelan-pelan pula, badanku kuhadapkan ke arahnya dan kutaruh tangan kiriku di pinggangnya, lalu wajahku mulai mendekati wajahnya. Aku mulai bisa merasakan nafasnya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Akhirnya dia memejamkan mata, lalu kucium lembut keningnya, lalu pipi kanannya, lalu pipi kirinya. Aku terdiam sebentar. Matanya masih tetap terpejam. lalu perlahan-lahan kucium bibirnya yang lembut itu. Dia membalas dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Aku memeluknya, lalu kami saling mengulum bibir, lalu memainkan lidah.., Hmm nikmat sekali.
Beberapa saat kemudian, aku hentikan permainan bibir itu lalu aku terdiam. Matanya terbuka, tatap matanya serasa seperti bertanya-tanya. Lalu aku menciumi bibirnya lagi sambil pelan-pelan merebahkannya di atas ranjang. Dia menurut saja, membuatku semakin bernafsu. Lalu aku cium dia pelan-pelan sedangkan tanganku meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang cukup mungil, “Emhh.., Emh..” dia cuma melenguh saja membuat gairahku menjadi semakin naik saja.
Segera kusingkapkan Kaos yang dipakainya ke atas, lalu kuciumi dan kujilati dadanya yang aduhai itu, “Ahh.., Emhh..”, badannya bergoyang-goyang kecil, membuat nafsuku semakin naik. Waktu mau kubuka kancing BH-nya, dia mengangkat badannya sehingga memudahkanku, lalu kujilati putingnya dan kuhisap-hisap selama beberapa menit, “Emhh.., Ahh.., Ahh..”
Aku sudah tidak tahan lagi, langsung kubuka celana panjangnya lalu kupelorotkan, kujilati kemaluannya dari luar sebentar, lalu segera kupelorotkan juga. Hmm.., ternyata rambut kemaluannya masih lebat, jauh lebih lebat daripada kakaknya, sedangkan lubang kemaluannya masih sangat rapat. Ahh.., baru percaya aku kalau dia masih perawan. Kujilati clitoris vaginanya yang sangat menggairahkan itu, dia terengah-engah, “Ahh.., Ahh..”, dan sesekali tubuhnya menggelinjang. Kuhisap-hisap dan kujilati bagian dalam lubangnya. Hmm.., nikmat sekali, cairan yang keluar langsung saja kutelan.
Aku sudah tidak sabar lagi, tidak sampai 5 menit aku menjilati vaginanya, segera kupelorotkan celana panjang dan celana dalamku lalu pelan-pelan kumasukkan penisku ke dalam lubang senggama Kelly. Uhh.., agak sulit juga tapi berhubung cairannya sudah cukup banyak, akhirnya masuk juga, kurasakan ada sesuatu yang menghalangi laju penisku, sepertinya selaput darahnya namun kuteruskan saja pelan-pelan.
“Aduh!”, pekiknya.
“Kelly, sakit ya? Tahan ya..”, Aku terdiam sebentar, menunggu agar sakitnya hilang, lalu mulai kumasukkan lebih dalam lagi pelan-pelan.
“Kelly, masih sakit..?”.
“Iya.., tapi sudah agak.., ahh..”, Pelan-pelan sekali kumaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya. Hmm, benar-benar nikmat.., benar-benar rapat sekali vaginanya, menjepit penisku yang merasa keenakan.
“Ahh.., ahh.., hmmhh..” akhirnya dia mulai merasa nikmat, aku jadi berani mempercepat gerakanku.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..” Mungkin cuma sekitar 3 menit, dia sudah mulai terangsang sekali.”Ah.., Her.., Ah Her.., Aku sepertinya mau.., ahh..”, Sepertinya dia mau orgasme, akhirnya kupercepat gerakanku dan, “Ahh.., Ahh nikmat Her.., aduh nikmat sekali Her..”. Aku belum orgasme, lalu kutarik penisku dan kugesek-gesek sendiri dengan cepat dengan tanganku. “Ahh..”, akhirnya aku orgasme juga, spermaku bertebaran di perutnya.
Setelah kami membersihkan spermaku, kami mandi bersama-sama, setelah itu kami ngobrol-ngobrol juga di atas ranjang, sambil bermesraan layaknya orang pacaran. Tapi sungguh pun begitu, aku tidak mencintai dia sama sekali dan tidak menganggapnya sebagai pacar, walaupun sebetulnya aku sendiri juga belum punya pacar, jahat juga yah aku.
Beberapa puluh menit kemudian pintu diketuk oleh Mas Sandy dan akhirnya kami pun pulang, sampai di rumah sudah sekitar jam 11 malam. Begitu melelahkan.., namun begitu nikmat. Aku baru bisa tidur sekitar jam 2 subuh, entahlah, membayangkan macam-macam.
Semenjak itu aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, pernah aku mencoba meneleponnya tapi karena ada gangguan Telkom (suara tidak jelas, crosstalk) maka terpaksa tidak dilanjutkan, dan aku tidak pernah meneleponnya lagi. Setelah aku pulang ke Sukabumi. Mungkin nanti aku mau ke Surabaya lagi, bertemu dengan dia. “Ahh..”, akan kunantikan saat itu. Sekian.












0 comments:
Post a Comment