Cerita Seks Pengalaman Pertama Bersetubuh Dengan Pria Yang Baru Aku Kenal Tak Lama^_^ Panggil saja namaku Fivian. Aku baru berusia 17 tahun. Tinggiku lumayan sekitar 169 cm dan warna kulitku putih bersih. Rambutku panjang, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model dan aku belum mempunyai pacar.
Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di 1 tahun yang lalu. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Sandro. Orangnya tampan, tinggi sekitar 171 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 5 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta.
Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas 3 di SMA-ku. SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Sandro sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Sandro hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.
Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon. Selang beberapa hari kemudian, Sandro menelepon aku.
“Hallo selamat sore Fivian, ini dari Sandro.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Heemm, Fi ada acara nggak malam minggu ini.”
Aku sempat kaget Sandro mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.
“Heemmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa bisa begitu,” balas Sandro.
“Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku nggak akan terima telpon kamu lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian aku memberikan alamat rumahku. Dan ternyata rumah Sandro tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.
Tepat hari sabtu sore, Sandro datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah setengah jam di rumah, ngobrol-ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Sandro menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.
“Fivian, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Sandro mesra.
“San, kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.”
“Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.”
“San, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.”
Tiba-tiba tangan Sandro memegang tanganku dan meremasnya kuat-kuat. ”Aku juga Fi, begitu melihat kamu langsung tertarik.”
Dan Sandro menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Sandro memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Sandro sudah ada di depan mataku dan pelan-pelan Sandro mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki.
Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Sandro dan mencium bibirnya. Ciuman Sandro sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini dan lama-kelamaan tangan Sandro mulai meraba sekitar dadaku.
“Jangan San, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu San,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Sandro karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Fi, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam 7 dan film masih ada kok.”
Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling atas. Sandro sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk dan begitu film diputar, Sandro langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Sandro meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.
Tiba-tiba Sandro membisikkan sesuatu di telingaku, “Fi, kamu membuat nafsuku naik.”
“Aku juga San,” balasku manja.
Dan Sandro menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Sandro sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan Fi, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Sandro sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.
Akhirnya tangan Sandro berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Sandro meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Sandro memegang puting susuku yang sudah keras. “Teruskan San, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka resleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain.
“Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Sandro untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Sandro yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan San, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.
“Kita langsung pulang ya Fi sudah malam,” pinta Sandro.
“San, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya sekitar jam 12 malam, sekarang masih jam 09.30, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop.
Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Sandro. Mudah-mudahan Sandro mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Sandro dengan nada gembira.
Sampai di senayan, Sandro memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Sandro menghentikan mobilnya, tiba-tiba Sandro langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Sandro begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.
Tiba-tiba Sandro melepaskan ciumannya. “Fi, aku ingin mencium susumu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Sandro. Dan kulihat Sandro begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“Fi, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Sandro.
“Iya, San, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar-benar aku inginkan,” balasku manja. Tak lama kemudian, Sandro dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggu-tunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.
“Jangan berhenti San, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Sandro untuk membuka resleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Sandro mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Sandro dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku.
Resleting celana Sandro sudah terbuka dan tiba-tiba Sandro menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Sandro dan Sandro menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Sandro yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Sandro masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Sandro menggigit puting susuku.
“San, teruskan ya sayang… jilat aja San, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus memegang penis Sandro dan sepertinya Sandro makin bernafsu dengan permainan seksnya akhirnya Sandro sudah tidak tahan lagi.
“Fi, kamu isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”
Sebenarnya aku masih bingung tapi karena penasaran apa yang diinginkan Sandro, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Sandro merubah posisi duduknya, Sandro menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Sandro.
“San, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja Fi, aku sudah tidak tahan..”
Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Sandro. Inilah pertama kali aku melihat memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Sandro. Sekali-kali kujilati dengan lidahku dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Sandro. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Sandro aku jilatin terus, Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Sandro, tiba-tiba, Sandro menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus Fi, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Sandro mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Sandro. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku.
Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Sandro dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Sandro. Aaah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Sandro. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku dan Sandro kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“Fi, aku sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali San, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa Fi..”
Baca Juga : Berawal Dari Sales Penjual Kosmetik Kecantikan Hingga Menjual Diri
Kemudian Sandro mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Sandro dan Sandro mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11.30 malam. Dan aku diantar oleh Sandro hampir jam 12. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur.
Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya dan malam itu aku masih teringat akan penis Sandro yang besar. Dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah. Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Sandro menjemputku dan Sandro membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.
“Tempat apa ini San,” tanyaku.
“Fi, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih aman tentunya lebih leluasa. Kamu mau?.”
“Entahlah San, aku masih takut tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”
Sampai di garasi mobil kami keluar dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Fi, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Sandro.
“Aku setuju saja San, terserah kamu.”
Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Sandro membaringkan badanku di tempat tidur. “Fi, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Sandro berdiri di depanku dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya.
Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Sandro daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Sandro lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Sandro sudah terlihat bugil di depanku. Sandro memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Sandro menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai.
Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai dan pelan-pelan tangan Sandro mengelus susuku yang sudah keras. Lama-kelamaan tangan Sandro sudah mencapai restleting celanaku dan membuka celanaku. Menurunkan celana dalamku aku masih posisi berdiri, dan Sandro jongkok tepat di depan vaginaku. Sandro memandangku dari arah bawah sambil tangannya memeluk pahaku.
“Fi, body kamu bagus sekali.”
Sandro sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“Fi, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”
“Terserah kamu San, aku tidak peduli tentang perawanku aku ingin menikmati hari ini denganmu berdua dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..”
Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Sandro. Kemudian Sandro meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil dan tidak ada batasan lagi antara kami. Sandro bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Sandro. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri.
Sandro menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Sandro sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Sandro membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Aaah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Sandro sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar.
Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Sandro sambil meremas susuku dan memainkan putingku aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Sandro sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.
Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi kukatakan pada Sandro. “San, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan-pelan,” pintaku. Sandro lalu bangkit dari arah bawah dan menciumi bibirku. “Fi, kamu sudah siap aku masukkan apa kamu tidak menyesal nantinya.” “Tidak San, aku tidak menyesal.
Aku sudah siap melakukannya.” Lalu Sandro melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Sandro yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali dan kubimbing penis Sandro agar tepat masuk di lubang vaginaku.
Pertama-tama memang agak sakit tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Sandro berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.
“Ooooh… enak sekali,” jeritku. Cerita Terpanas
Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Sandro. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Sandro, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Sandro membisikkan sesuatu di telingaku, “Fi, kamu sudah tidak perawan lagi.”
“Ngga apa-apa San, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus San, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah Sandro di atas, kami melakukannya lama sekali. Sandro terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Sandro masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Sandro sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.”
“Keluarin terus Fi, aku tidak akan melepaskan punyaku.”
“San, aku tidak tahan lagi… AAaaaahh… aaaaahh.. aku keluar San, aku keluar.. keluar San..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaaaaahhh… Oooohhh..” Pada saat orgasme yang pertama, Sandro langsung menciumi bibirku. Oh… benar-benar luar biasa sekali enaknya.
Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Sandro dan aku masih memeluk badan Sandro. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“Fi, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi 69. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu.”
Kemudian kami berubah posisi 69. Sandro bisa sangat jelas mengisap punyaku dan kelihatan kliotorisku yang sangat berdenyutan.
“Fi punyamu lebar sekali.”
“Isap terus San, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”
Aku terus mengisap punya Sandro sementara Sandro terus menjilati vaginaku dan kami melakukannya sangat lama sekali. Penis Sandro yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya dan permainan mulut Sandro di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin ku akhiri.
“San… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi sayaangg…”
“Tahan sebentar Fi, aku juga mau keluar..”
Tiba-tiba Sandro langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas dengan cepat Sandro melebarkan kakiku, dan oooh.. ternyata Sandro ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Sekali lagi Sandro memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Sandro yang besar.
“Dorong yang keras San, lebih keras lagi,” desahku. Sandro menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya San, seperti itu… terus… aaaaaghhh..aaaaaghhh… enak sekali, aku mau melakukannya terus menerus denganmu..”
“Fi, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…”
“Aku juga San, sedikit lagi, kita keluar sama-sama ya… aaaaaaghhh..”
“Fi… aku keluar..” Croot... croottt...crroooootttt.....
“Aku juga San… aaaaahhh… aaaaaahhh… terasa San, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, Fi… goyang terus Fi, punyaku lagi keluar…”
“Aduh San… enak sekali…”
Bibirku langsung menciumi bibir Sandro yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.
“Fi… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia sayang…”
Tidak lama kemudian, Sandro membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“Fi, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.”
“Iya San..” jawabku singkat.
Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi dan aku mengalami kenikmatan sampai 2 kali. Sekali keluar pada saat Sandro menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Sandro memasukkan penisnya ke vaginaku. Sandro pun mengalami hal yang sama.
Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kami melakukannya berulang kali dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai 1 jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa, Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitung-hitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 9 kali orgasme. Kalau hanya sekedar diisap oleh Sandro hanya 3 kali jadi, sudah 12 kali aku keluar. Sementara Sandro sudah 8 kali.
Malamnya tepat jam 09.00 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu 2 hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Sampai sekarang hubunganku dengan Sandro bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja.
Baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 16 aku datang bulan dan kemarin tanggal 16 ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Sandro sepulang dari sekolah.
“San, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.”
“Iya sayang… syukurlah…”
“San, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau San..”
Ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Sandro sambil dia menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Setelah cairan sperma Sandro keluar yang tentunya semua kutelan karena sudah terbiasa, setelah itu tangan Sandro memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Sandro, tapi aku mengisap kepunyaan Sandro sebelum turun dari mobil hanya sekitar 3 menit Sandro sudah keluar.
Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Sandro langsung mengajakku ke penginapan.


















































