Cerita Seks Pengalaman Pertama Bercinta Dengan Cewek Yang Di Kenal Dari SMS Nyasar^_^ Perkenalkan, nama gw adalah Hermansyah. Gw lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Jogya. Bagiku, sex adalah hal yang tabu, yang benar-benar tak terjamah. Terpikirkan pun tidak, sampai kisah ini gw alami. Cerita Sex ini dimulai dari salah mengirim SMS. Saat itu, gw berniat mengirim SMS ke seorang teman cewek yang sudah lama kukenal.
Karena sudah tidak lama berhubungan, dan gw tidak punya catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka gw menuliskan nomor HP dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan yang kira-kira menyatakan bahwa gw kangen dan ingin bertemu dengannya! Hallo Nana How Are U? I MISS U Na Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia tidak menjawab.
Aneh, pikirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan kucantumkan nama gw. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call. Karena saat itu gw sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan SMS yang menyatakan bahwa gw akan meneleponnya sore nanti.
pukul 5.30 langsung kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. Halo, Tina?, Tanya gw sejenak, ragu. Saya pikir anda salah orang, begitu tanggapan lawan bicara gw. Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu, jawabku sambil menahan malu. Oh, tidak apa-apa, jawab lawan bicara gw lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicara gw segera bertanya.
Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake kangen2 segala?, ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Tina adalah teman lama gw, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata, akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, gw tahu bahwa nama wanita tersebut ternyata adalah Tina juga.
Sejak saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang gw malah menelponnya. Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Sebulan berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah menjadi hal-hal yang agak menjurus ke sex.
Tiga bulan berjalan sejak perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Tina mengirim SMS yang menyatakan ingin bertemu. Mengapa tidak, kupikir. Toh tidak ada ruginya untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke sex.
Kami janjian sore pukul 16.30. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, gw segera meneleponnya. Gua pake sweater pink, kata Tina. Segera kutemui Tina yang sedang berdiri menunggu. Hai, Tina ya? tanya gw. Tina segera tersenyum. Wajahnya memang lumayan cantik, tubuhnya pun OK lah.
Namun, gw memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan fisik. Segera kuperkenalkan diriku. Gua Hermansyah, kata gw. Memang pergaulanku dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu gw sedikit gugup. Namun, segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim. Kami segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.
Hermansyah, suka nyanyi-nyanyi gak?, tanya Tina setelah kami selesai makan. Suka, tapi tidak di depan umum, begitu jawabku. Sama dong. Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak untuk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain. tanya Tina. Kupikir, asyik juga ya, untuk melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku.
Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Tina permisi kepada gw untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Tina kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.
Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang keempat. Tina memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Tina. Halus sekali, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Tina pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku.
Dingin ya? tanya Tina, kepada gw, sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Tina mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali gw mengelus pipinya yang lembut, namun gw agak takut-takut. Perlahan-lahan Tina mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.
Wangi aroma tubuh Tina segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Tina. Ia menatapku. Gw balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Tina diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku.
Tina benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Tina sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Tina dengan rasa sayang.
Tiba-tiba Tina menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Tina diam saja. Gw mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Gw semakin berani.
Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater pinknya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Tina mendesah. Ssseeeessssshh, desahnya.
Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Tina mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini, pikirku karena memang gw belum pernah berciuman dengan wanita.
Badanku bergetar hebat, karena gw belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Tina. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.
Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Tina. Tina kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Tina menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya.
Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. Montok kan punya gua? begitu ungkap Tina saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal gw tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Tina mengiringi gerakanku. Sseeesssh.. Oooohhh, Hermansyah. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut, begitu terus desahnya. Tersanjung juga gw dipuji dirinya.
Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Hermansyah, kamu jangan pulang dulu ya. Gw ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar gw di hotel ya? tanya Tina kepada gw. Saat itu, gw agak takut. Takut gw tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Tina mengerti ketakutanku. Gw cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Hermansyah?, tanyanya dengan mata memohon.
Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, gw takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, gw banyak tugas malam yang saat itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat gw tidak tega menolaknya. Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Tina lagi.
Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Tina menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, gw menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Tina membentangkan tubuhnya di kamar tersebut.
Hermansyah, sini dong, kata Tina. Gw mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Tina. Gw dalam posisi duduk, sementara Tina sudah telentang. Hermansyah, belai gw lagi ya, kata Tina. Segera tanganku mengelus dahi Tina. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.
Tina menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Tina membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Tina benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Gw hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Tina menjerat bibirku di bibirnya.
Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Tina segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.
Tina meronta-ronta dan mendesah. Aduuh Hermansyah, geli sekali. Teruskan Hermansyah, katanya. Kucumbu Tina terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Tina mendesah hebat. Sssssshh.. sshh.. ooohh, desah Tina. Gw tidak bisa menahan diriku lagi. Tina, boleh kubuka bajumu?, tanya gw pelan kepada Tina. Tina mengangguk, tersenyum.
Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna merah. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Tina mengerang. Hermansyah, buka BH gua dong, pinta Tina. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah gw membuka BH wanita.
Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting merah muda. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali gw menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Tina mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya.
Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Tina mengerang-ngerang. Aduuuuh, Hermansyah..sssh..ssssh.. geli sekali. Terus Hermansyah… Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Auuuwww.. enak Hermansyah.., Tina menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 10 menit Tina kuperlakukan seperti itu.
Hermansyah, bukain celanaku dong.., pinta Tina. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna putih. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.
Ouuuhh.., rintih Tina menahan kenikmatan yang kuberikan. Cerita Terpanas
Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Tina meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. Ouuuh.. ooooohhhh.. ronta Tina. Gantian tangan Tina yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya Kontolku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuuuh, nikmat sekali rasanya.. Hermansyah, buka celana dalam gua.., pinta Tina. Jangan Tina, gua gak berani melakukan itu.. kata gw.
Gw bukan bermaksud munafik, tapi gw memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. Tak apa-apa, Hermansyah, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja, pinta Tina memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Tina. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. Elus lagi, Hermansyah.., pinta Tina.
Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Tina meronta. Oooohh.. ooooohh. Ke atas lagi Hermansyah. Elus klitorisku, begitu desahnya perlahan. Gw tidak tahu persis di mana klitoris. Gw terus mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Tina membimbing tanganku ke klitorisnya.
Baru sekali itu gw tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 4 putaran, Tina langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. Hermansyah, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Tina. Gw sedikit ragu, dan jijik. Pake tangan aja yah, Tina.., gw berusaha menolak dengan halus.
Tolong dong, Hermansyah. Sekali ini saja. Nanti gantian deh , pinta Tina. Gw masih berat hati menghisapnya. Tina, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti… Belum selesai gw bicara, Tina segera memotongku. Kemaluanku bersih kok, Hermansyah. Gw selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok, pinta Tina lagi.
Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke memeknya Tina. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Gw takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. Terus, Hermansyah....Ooooohh.. enak sekali, desah Tina. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati vaginanya.
Tina makin mendesah. Oooohh.. ooohh.. ooohh.. oooohh. Tina menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang vaginanya. Kamu nanti tidak kesakitan?, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. Aaahh.., Tina menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.
Saat kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. ‘Ya, terus di situ Hermansyah.. aaaahh.. enak sekali.. Kuteruskan untuk beberapa saat. Tina makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Tina menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. Aaah Hermansyah.. gw mau keluaar.. erang Tina.
Tina makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepala gw dengan pahanya. Aaaaahh.. Hermansyah..gw keluar, desahnya. Segera kupeluk tubuh Tina, dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Tina menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. Hermansyah, enak sekali, kata Tina. Gw diam saja.
Sekarang gantian, ya, kata Tina. Gw mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi Kontolku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Tina mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar.
Gw merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya paha gw yang menutupi Kontolku. Tina segera meraba-raba Kontolku. Oooh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Tina tertawa. Enak kan, Hermansyah? tanyanya menggoda gw. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. Mau diterusin gak, Hermansyah? tanya Tina sambil menggoda lagi. Gw hanya mengangguk.
Saat itu Kontolku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punya gw langsung keras. Akhirnya Tina mendekatkan mulutnya ke Kontolku. Dikecupnya ujung Kontolku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Hermansyah, punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Tina. GR juga gw dipuji begitu. Dipegangnya gagang Kontolku, lalu Tina mulai menjilati Kontolku.
Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek gw meronta, melepaskan Kontolku dari mulut Tina. Kenapa, Hermansyah?, tanya Tina. Gua gak tahan. Geli banget, sih? kata gw protes. Ya udah, pelan-pelan aja, ya? kata Tina. Gw mengangguk lagi. Tina mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.
Kuperhatikan Tina menjilati Kontolku, tak terasa Kontolku segera mengeras. Tina senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Kontolku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi gw disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini.
Aaaah.., tak kuasa gw menahan desahanku. Hermansyah, kumasukan ya punyamu? tanya Tina. Nanti kamu sakit, gak? tanya gw. Gw sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Kontolku dikepit oleh vaginanya. Ya, kalau gw yang ngontrol sih, gak sakit, kata Tina. Ya udah, kamu yang di atas aja, kata gw kepadanya.
Tina segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Kontolku menuju liang memeknya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Kontolku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punya gw di sana untuk beberapa saat. Gw diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punya gw masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya.
Sudah sepertiga dari panjang Kontolku yang berada dalam vaginanya. Dia diamkan lagi Kontolku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. Sakit? kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Tina. Kemudian ia mendorong Kontolku makin dalam, hingga akhirnya semua Kontolku tertelan di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Tina mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Aaahh.. enak sekali menikmati Kontolku terjepit dalam vagina Tina.
Gerakan pantat Tina membuat Kontolku terkocok, dan segera gw merasakan kenikmatan yang tiada tara. Tina pun seakan-akan begitu. Ooohh.. ooohh.. ooohh.. oooohh, Tina mengerang-ngerang. Tina terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku.
Namun, ternyata Tina tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Tina sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. Aaah.. aaah.. aaahh.. aaaahh.., desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Tina makin merintih. Ssssh.. sssh.. sssssshh.. enak Hermansyah.
Makin lama gerakan Tina makin cepat. Hermansyah, gw mau keluar lagi, Hermansyahhh.. rintihnya. Gw pun merasa Kontolku berdenyut kencang. Tina, tolong lepaskan, gw mau keluar, kata gw. Gw takut sekali kalau sampai Tina hamil. Tapi Tina tidak mau melepaskan Kontolku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga gw tidak bisa melepaskan diri darinya.
Tiba-tiba kurasa Kontolku menyemburkan cairan kuat di dalam vaginanya. Aduh, Tina, jangan.. nanti kamu hamil.., teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Kontolku mengerut, dan menjadi kecil kembali.
Tina dengan kecewa melepaskan Kontolku. Tina, kalo kamu hamil gimana, tanya gw dengan setengah takut. Tenang aja, Hermansyah. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya? kata Tina menenangkan diriku. Kemudian, Tina segera memijat-mijat Kontolku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi. Tak lama, Kontolku segera mengejang lagi.
Segera Kontolku dimasukan lagi oleh Tina ke vaginanya. Kembali Tina melakukan gerakan maju mundur tadi. Oooouuuhh.. oooohh.. oooohh.. oooohh, erangnya. Kuremas lembut tokednya. Sssshh.. ssshh.. ssssshh, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Tina mengocok Kontolku dengan vaginanya, sampai akhirnya ia berteriak. Hermansyah, gw hampir keluar, desah Tina.
Segera Tina mempercepat gerakannya. Gw pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. Aaaahh.. Hermansyah, gw keluar, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum roboh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya.
Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari. Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh Tina dan gw tak akan pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama Tina walaupun kini gw gak tau kabarnya si Tina ini!



















0 comments:
Post a Comment