Wednesday, September 19, 2018
0
Cerita Seks Bersetubuh Dengan Pacar Abangku Yang Bohai Dan Sangek^_^ Sebelum kuliah di Jakarta, Santo kuliah di perguruan tinggi di Bandung. Di sana, ia mempunyai seorang pacar bernama Thalita. Setelah setahun kuliah di Jakarta, Santo dan Thalita tidak betah, dan akhirnya mereka berdua pindah ke Surabaya (di universitas & fakultas yang sama).
Ketika pertama kali saya bertemu dengan Thalita, saya terpana dengan parasnya yang cantik. Saya merasa Santo sangat beruntung mendapatkan pacar seorang gadis yang cantik seperti Thalita. Memang, Santo bercerita bahwa Thalita merupakan rebutan cowok-cowok di kampusnya (baik di Jakarta maupun Bandung). Ketika bersalaman dengannya, saya tidak dapat melepaskan pandangan dari wajahnya yang sangat cantik dan imut itu.
Setelah perkenalan pertama dengan Thalita, dia selalu terbayang dalam pikiranku. Apalagi Thalita sering main ke rumah kami (o iya, saya dan Santo tinggal berdua di sebuah rumah di Surabaya). Setiap Thalita datang ke rumah, saya pasti merasa deg-degan. Seakan-akan Thalita adalah pacar saya sendiri (apa karena Santo dan saya kembar, jadi saya merasakan hal ini ya?).
Kadang-kadang, Santo & Thalita suka berduaan di kamar Santo, dan saya sering mendengar mereka cekikikan berdua di kamar. Saya jadi merasa iri dengan Santo. Saya belum pernah punya pacar sejak dulu. Memang dibanding Santo, saya anaknya agak lebih pendiam. Saya tetap punya teman-teman cewek, tapi bukan pacar.
Suatu kali, Santo sedang pergi keluar kota bersama teman-temannya untuk beberapa minggu (hampir sebulan kalau tidak salah). Thalita tetap di Bandung, karena dia mengambil semester pendek. Saya sempat merasa agak kesepian juga di rumah, karena saya hanya sendirian saja. Apalagi kalau Santo tidak di sini, berarti Thalita juga nggak akan datang ke rumah saya kan?
Nah, pada suatu siang di rumah, tiba-tiba saya seperti mendengar suara motor Thalita dari kejauhan. “Ah, aku pasti terlalu merindukan kehadiran Thalita”, pikirku, sampai suara motor lewat pun saya sangka suara motor Thalita.
Eh, ternyata suara motor itu memang menuju ke rumahku, dan saya kaget, itu memang Thalita! Dia mengenakan kaos ketat berwarna putih, dan celana jeans yang juga ketat. Sungguh menggairahkan sekali penampilannya saat itu. Saya gembira campur bingung, kenapa Thalita datang ke sini, padahal Santo kan lagi pergi?
“Halo Sandigo.. Sendirian aja ya di rumah? Kasian, ditinggal Santo sendirian. Pasti sepi ya?”, kata Thalita sambil menuntun motornya masuk.
“Iya nih Lit, sendirian terus tiap hari. Kamu tumben dateng ke sini? Ada angin apa Lit?”
“Ini San, aku mau ngambil catatanku yang dulu dipinjem Santo. Soalnya ada perlu buat semester pendek.”
“Ooo.. kalo gitu masuk aja Lit. Aku kurang tau di mana Santo nyimpen catatanmu. Liat aja di kamarnya.”, jawabku lagi.
Thalita pun masuk ke kamar Santo dan mencari catatannya di laci meja komputer Santo. Sepertinya dia memang sudah tau kalau Santo menyimpannya di sana. Untuk membuka laci itu, dia mesti agak membungkuk. Ketika membungkuk, bagian belakang baju kaosnya agak terangkat, dan tampaklah olehku punggungnya yang putih mulus. Wahh.. walaupun hanya sedikit yang tampak, tapi itu sudah membuat pikiranku melayang dan otomatis penisku pun ikut berdiri.
“Udah dapet nih San, catatannya.”, kata Thalita kepadaku.
“Oh, di sana ternyata dia simpen ya? Oke deh. Itu aja yang perlu Lit?”, kataku dengan agak sedikit kecewa, karena kalau memang hanya itu tujuan dia ke sini, berarti dia udah mau balik dong..?
“Iya, ini aja. Aku pulang dulu deh ya San.”
Yaahh.., sebentar banget aku sempat ketemu dengan Thalita, pikirku.:((Kemudian Thalita keluar menuju motornya. Di depan motornya aku melihat dia menggantungkan sebuah tas yang agak besar.
“Bawa apaan tuh Lit?”, tanyaku sama Thalita.
“Oh, ini? Sebenarnya setelah ini aku bukan mau pulang sih. Aku rencananya mau ke tempat temenku. Numpang mandi. Abis, air di kostku lagi habis. Sumurnya kering San. Wah, jadi ketauan deh kalo aku belum mandi nih.. Jadi malu..”, kata Thalita dengan agak malu-malu.
Wah.., kesempatan nih!
“Kenapa nggak mandi di sini aja Lit? Airnya banyak kok di sini. Daripada repot-repot ke tempat temenmu lagi. Gimana? Mau?”, cecarku dengan penuh semangat (campur nafsu:)
“Mmm.., nggak apa-apa nih San?”, tanya Thalita agak ragu.
“Nggak apa-apa kok. Bener. Suwer. Samber geledek.”, jawabku dengan sedikit bercanda.
“Ya oke deh kalo gitu. Aku numpang mandi ya..”
Yess.. Akhirnya aku punya kesempatan untuk bersama Thalita lebih lama lagi.. Thalita langsung masuk lagi menuju kamar mandi. Aku hanya dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu. Aku membayangkan Thalita membuka baju ketatnya, dan melepaskan celana jeansnya. Aku membayangkan bagaimana tubuh seksi Thalita hanya berbalutkan BH dan celana dalam saja.
Hhhmm.. penisku langsung tegang dengan sendirinya tanpa perlu kusentuh. Sedang enak-enak melamun, tiba-tiba pintu kamar mandi Thalita terbuka. Oh, ternyata Thalita masih mengenakan pakaiannya, tidak seperti dalam bayanganku.
“Sandigo, aku bisa pinjem handuk nggak? Aku lupa bawa nih. Sori ya ngerepotin.”
“Oh, nggak apa-apa. Ntar ku ambilin.”
Ketika aku memberikan handukku kepada Thalita, terlihat tali BH Thalita yang berwarna hitam di bahunya. Walaupun itu hanya seutas tali BH di bahu, tapi itu sudah cukup untuk membuatku berimajinasi yang bukan-bukan tentang Thalita.
“Makasih ya Sandigo..”, wah, suaranya benar-benar bisa membuatku terbang ke langit ketujuh..
“eh, iya..”, jawabku.
Lalu Thalita masuk kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian sudah terdengar suara cebyar-cebyur air. Aku tak dapat berhenti membayangkan tubuh Thalita yang telanjang.. Kulitnya pasti mulus.., putih.., dan badannya sangat seksi sekali.. mmhh.. aku tak kuasa untuk menahan nafsuku.. Aku masuk ke kamar, dan masuk ke kamar mandiku (letaknya tepat di sebelah kamar mandi tamu tempat Thalita mandi).
Di dalam kamar mandi, aku langsung melepaskan seluruh pakaianku dan mengambil sabun untuk onani. Aku memegang penisku yang sudah sangat tegang (rasanya belum pernah “dia” sebesar ini. Bayangan akan Thalita benar-benar telah membuatnya sangat keras..). Dengan sedikit sabun, aku mulai meremas-remas penisku.
Pelan-pelan mulai mengocoknya maju-mundur.. mm.. aku membayangkan ini adalah tangan Thalita yang mengocok penisku.. oohh Thalita.. andaikan kamu mau mandi bersamaku di sini.. hhmm.. Imajinasiku telah melayang ke mana-mana. Sedang asyik-asyiknya onani, tiba-tiba pintu kamar mandiku diketuk dari luar.
“Sandigo.. Kamu lagi mandi ya? Sori mengganggu lagi. Kamu ada sabun cuci muka nggak? Aku lupa bawa tadi..”, terdengar suara Thalita memanggil.
Aku kaget! Wah, mana udah mau klimaks, eh Thalita ngetuk pintu. Buyar deh imajinasiku yang sudah kubangun dari tadi. Wah, pasti Thalita sudah pakai baju lengkap lagi seperti tadi, tidak telanjang seperti dalam bayanganku. Tapi nggak apa-apa deh, kan aku bisa ngeliat Thalita lagi jadinya. Aku lingkarkan handuk di pinggangku untuk menutupi penisku yang tegang, lalu aku ambilkan sabun cuci mukaku untuk Thalita.
“Ini Lit, sabun cuci mukanya”, kataku sambil membuka pintu.
Wahh.. ternyata Thalita hanya mengenakan handukku yang kuberikan tadi, bukannya berpakaian lengkap! Rejeki lagi nih! Dengan balutan handukku yang tidak terlalu lebar itu, tampak kulitnya yang benar-benar putih mulus. Handukku hanya menutupi dari dadanya sampai sekitar 15 cm di atas lututnya. Tampak olehku pahanya yang begitu indah. Rambutnya yang basah juga memberi efek yang membuatnya semakin kelihatan seksi.. Tanpa bisa dibendung, penisku menjadi semakin tegang lagi..
“Makasih Sandigo.. Wah, bener-bener sori ya, jadi ngeganggu mandimu..”, kata Thalita lagi.
“Ehm.., nggak apa-apa kok Lit.”, jawabku terbata-bata karena nggak kuat menahan nafsuku..
Tanpa kusadari, penisku semakin menyembul dan membuat handukku hampir copot. Jarakku dengan Thalita waktu itu sangat dekat, sehingga penisku yang sudah berdiri itu menyentuh bagian perut Thalita (penisku dan perut Thalita sama-sama masih tertutupi handuk). Thalita kaget, karena ada sesuatu yang menekan perutnya.
“Eh, aku mandi lagi ya San.”, kata Thalita buru-buru dengan muka yang memerah. Sepertinya dia malu campur bingung.
“Mmm, iya.., aku juga mau mandi lagi”, jawabku juga dengan penuh malu.
Thalita pun kembali ke kamar mandinya, dan aku juga masuk lagi ke kamar mandiku.
Di dalam kamar mandi aku berpikir, apa kira-kira tanggapan Thalita atas kejadian tadi ya? Apa dia akan lapor ke Santo kalau aku berbuat kurang ajar? Apa dia marah sama aku? Atau apa? Aku jadi takut.. Setelah termenung beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang kukerjakan tadi. Masalah nanti ya urusan belakangan. Baru saja aku mau mulai untuk onani lagi, pintu kamar mandiku diketuk lagi.
“Sandigo.., sori mengganggu lagi. Aku ada perlu lagi nih”, kata Thalita dari luar.
“oh iya, bentar..”
Sekarang aku pakai CD & celana pendekku. Aku nggak mau terulang lagi kejadian memalukan tadi. Aku keluar dari kamar mandi.
“Ada apa Lit? Apa lagi yang ketinggalan? Mau pinjem CD?”, candaku pada Thalita.
“Ah, kamu ada-ada aja.”, kata Thalita sambil tertawa. Hhh.., manis sekali senyumannya itu..
Btw, dia masih mengenakan handuk seperti tadi. Seksi..!
“Gini San.. Waktu aku minjem sabun cuci muka tadi, aku tau kalo kamu sempat.. mm.. apa
ya istilahnya? Terangsang?”, kata Thalita.
“Hah? Apa? Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti?”, tanyaku pura-pura bego.
“Nggak apa-apa kok San. Nggak usah malu. Kuakui, aku tadi juga sempat membayangkan
“itu” mu waktu aku masuk kamar mandi lagi.
Baca Juga : Terpaksa Menjual Diri Kepada Pria Tua Bangka Demi Biaya Operasi Ibu
Aku bahkan hampir saja mau.. mm.. masturbasi sambil membayangin kamu. Tapi kupikir, ngapain pake tangan sendiri, kalo “barang”nya ada di sebelah?”, jawab Thalita.
“Hhhaahh? Apa maksudmu Lit? Aku jadi makin bingung? Aku nggak”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Thalita sudah meraba penisku dari luar celana pendekku.
“Ini yang kumaksud, Sandigo! Burungmu yang tegang ini! Aku menginginkannya!”, kata Thalita sambil terus meraba-raba dan meremas penisku.
“hhmm.., Thalita.. kamu..”
“Sandigo.. Walaupun aku pacarnya Santo, kamu nggak usah malu begitu. Sejak bertemu denganmu di jogjakarta ini, aku selalu membayangkanmu dalam setiap fantasi seksku.
Bukannya aku nggak cinta Santo. Tapi dengan membayangkan sesuatu yang “tabu”, biasanya aku selalu menjadi begitu terangsang, dan selalu kuakhiri dengan masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan saudara kembar pacarku sendiri.
Sandigo.. saat ini sudah lama kutunggu-tunggu. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya mengulum burungmu dalam mulutku. Bagaimana rasanya memainkan burungmu dalam vaginaku.. hhmm.. You’re always on my fantasy, Sandigo..”, cerocos Thalita sambil semakin kuat meremas penisku (masih dari luar celana pendekku).
“Ohh.., oohhmm.., Thalita.. Aku.., juga.. selalu membayangkanmu dalam setiap onaniku.
Aku nggak tahan melihat kecantikan dan keseksianmu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku cemburu dengan Santo. Aku selalu membayangkan tubuhmu yang putih, halus, lembut, dan seksi ini.. Aku menginginkanmu Thalita..”, jawabku sambil meraba bahu dan tangannya yang begitu halus dan lembut.
Kemudian tanpa berpikir lagi, aku raih rambutnya dan kutarik mukanya ke mukaku, dan kucium Thalita dengan buas. Kulumat bibirnya yang merah dan mungil itu. Inilah pengalaman pertamaku mencium wanita. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Apalagi tangannya masih terus meremas penisku yang sudah berdenyut-denyut dari tadi.
“Hmmpp.., mmhhmmhh..”, Thalita juga membalas ciumanku dengan lumatan bibirnya dan lidahnya bermain-main di dalam mulutku.
Aku terus menghisap bibir & lidahnya, dan tanganku mulai meraba payudaranya yang masih tertutup handuk. Payudaranya cukup besar. Belakangan kuketahui ukurannya 34B. Terasa putingnya yang mengeras dari balik handuk.
“Ohh.. Sandigo.. remas susuku! Remas, San.. Ohhmmhh..”,
desah Thalita di telingaku, semakin membuatku bernafsu.. Tanpa pikir panjang, langsung kulepaskan handuk Thalita, sehingga tampaklah di depan mataku keindahan tubuh telanjang
Thalita yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.
“Thalita.. kamu sunguh-sungguh cantik.. Aku menginginkanmu..”. Cerita Terpanas
Aku pun langsung menerkamnya dan tanpa membuang waktu langsung kuhisap payudaranya yang bulat & padat itu. Sebelumnya aku hanya dapat membayangkan betapa indahnya payudara Thalita yang sering mengenakan kaos ketat itu. Bahkan pernah sekali dia mengenakan kaos ketat tanpa BH, sehingga tampak samar-samar putingnya yang merah olehku waktu itu.
“Sandigo.. Mmmhhmm.. Kamu benar-benar hebat Sandigo.. Bahkan Santo tidak pernah bisa membuatku jadi gila seperti ini.. Ooohh.. hisap putingku San. Jilat.. hhmm..” jerit Thalita yang sudah benar-benar penuh nafsu birahi itu.
Aku terus menjilati dan menghisap payudaranya, dan sekali-sekali kugigit karena gemas, sehingga payudaranya menjadi merah-merah. Tapi Thalita tidak marah, malah sepertinya ia sangat menikmati permainan mulutku.
Bosan bersikap pasif, Thalita pun melepaskan celana pendekku dengan penuh nafsu, sehingga tampaklah olehnya penisku yang sudah berdiri tegak hingga keluar dari pinggang celana dalamku.
“Besar sekali burungmu Sandigo! Wow.. Lebih besar dari pacarku yang dulu. Bahkan lebih besar dari punya Santo! Kukira punyamu sudah yang terbesar yang pernah ada!”, puji Thalita dengan mata berbinar ketika melihat penisku.
Thalita menarik CDku hingga lepas, berlutut di depan penisku dan langsung menjilati telorku yang penuh bulu itu.
“Aahhmm.. enak sekali Thalita..! mmhhmm.. Kamu memang hebat sekali..”,
aku meracau kenikmatan sambil terus membelai rambutnya yang indah.
“oohhmm.. aku suka sekali burungmu Sandigo.. besar, panjang, dan hitam.. oohhoohhmm..”,
Thalita memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, dan menghisapnya dengan kuat.
“Ahh.., Thalita.. AAaaahahmmhh..”,
aku benar-benar dalam puncak kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan onani hanyalah sepersekian dari kenikmatan dihisap dan dijilat oleh mulut dan lidah Thalita yang sedang mengulum penisku ini.
Thalita dengan penuh semangat terus menghisap penisku, dan karena ia memaju mundurkan kepala & badannya dengan kencang, tampak olehku payudaranya bergoyang-goyang kesana kemari. Ketika aku hampir mencapai klimaks, langsung kutarik penisku dari mulutnya, dan kupeluk Thalita erat-erat sambil menjilati & menciumi seluruh mukanya. Mulai dari keningnya, matanya, hidungnya yang mancung, pipinya, telinganya, lehernya, dagunya, dan kuteruskan ke bawah.
Sampai akhirnya seluruh tubuhnya basah oleh air liurku dan di beberapa tempat bahkan sampai merah-merah karena hisapan dan gigitan gemasku. Thalita benar-benar menikmati perlakuanku terhadap tubuhnya, terutama ketika aku menjilati dan menghisap daun telinganya. Dia benar-benar merinding ketika itu.
“oohh Sandigo.., kamu hebat sekali.. Belum pernah ada sebelumnya yang bisa membuatku orgasme tanpa perlu menyentuh vaginaku. Ohhmm.. you’re the greatest..!”, kata Thalita lagi.
Setelah beristirahat sejenak, aku mulai menjilati vagina Thalita.
“Sandigo.. nikmat sekali.. kamu hebat sekali memainkan lidahmu.. mmhhmm.. aahhgghh..”, Thalita benar-benar menikmati permainan lidahku yang mengobok-obok vaginanya dengan buas. “Thalita.., boleh aku memasukkan penisku ke dalam” belum selesai kata-kataku, Thalita langsung memotong.
“Nggak usah minta ijin segala, masukin burungmu yang gede itu ke vaginaku cepat, Sandigo!”, potong Thalita sambil memegang penisku dan mengarahkannya ke lobang vaginanya.
“Ahh.. sempit sekali Thalita.. Mmmgghh..”, vaginanya benar-benar menjepit penisku dengan kencang sekali, sehingga sensasi yang kurasakan menjadi benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Pokoknya enak banget!!
“Ooouuuhh Sandigo.. burungmu besar sekali!! HHhhmmhh.. aahh.. nikmat sekali Sandigo!”
Perlahan-lahan, aku pun mulai menggoyangkan pantatku sehingga penisku yang gede dan hitam mulai mengocok-ngocok vaginanya. Thalita pun juga menggoyangkan pantatnya yang putih mulus itu sehingga makin lama goyangan kami menjadi semakin cepat dan buas.
“Sandigoooo.. hh.. hh.. hh.. aku suka burungmu! mmhh.. lebih cepat, cepat.. keras.. aku.. hhoohhmmhh..”,
racauan Thalita makin lama makin tidak jelas.
“Aku hhaammpir keluuaar.. Thalitaaa.. hhmmhh..”,
campuran antara goyangan, desahan, dan tampang Thalita yang benar-benar seksi, merangsang, dan penuh keringat itu membuatku nggak tahan lagi.
“Keluarkan di dalam saja, Sandigo.. Aku jugaa.. mauu.. sampai.. hh..”.
“Aaahhhhmm.. aarrrhh.. ohmmm.. Nikmat Sekali.. Ahmmpp..!!” kami berdua mencapai klimaks pada saat yang bersamaan.
Setelah permainan yang dahsyat itu, kami sama-sama terlelap di kamarku.
Sewaktu terbangun ternyata hari sudah malam. Thalita langsung pulang karena takut kostsannya sudah dikunci kalau kemalaman. Tapi kami berjanji untuk bertemu lagi esok hari, karena kami berdua masih ingin melanjutkan hubungan yang “tabu” ini. Kami sama-sama menikmatinya. Hahahaaa..
Bersetubuh Dengan Pacar Abangku Yang Bohai Dan Sangek
By cerita seks / Posted on 2:46 PM / Cewek Cantik dan Sexy
Cerita Seks Bersetubuh Dengan Pacar Abangku Yang Bohai Dan Sangek^_^ Sebelum kuliah di Jakarta, Santo kuliah di perguruan tinggi di Bandung. Di sana, ia mempunyai seorang pacar bernama Thalita. Setelah setahun kuliah di Jakarta, Santo dan Thalita tidak betah, dan akhirnya mereka berdua pindah ke Surabaya (di universitas & fakultas yang sama).
Ketika pertama kali saya bertemu dengan Thalita, saya terpana dengan parasnya yang cantik. Saya merasa Santo sangat beruntung mendapatkan pacar seorang gadis yang cantik seperti Thalita. Memang, Santo bercerita bahwa Thalita merupakan rebutan cowok-cowok di kampusnya (baik di Jakarta maupun Bandung). Ketika bersalaman dengannya, saya tidak dapat melepaskan pandangan dari wajahnya yang sangat cantik dan imut itu.
Setelah perkenalan pertama dengan Thalita, dia selalu terbayang dalam pikiranku. Apalagi Thalita sering main ke rumah kami (o iya, saya dan Santo tinggal berdua di sebuah rumah di Surabaya). Setiap Thalita datang ke rumah, saya pasti merasa deg-degan. Seakan-akan Thalita adalah pacar saya sendiri (apa karena Santo dan saya kembar, jadi saya merasakan hal ini ya?).
Kadang-kadang, Santo & Thalita suka berduaan di kamar Santo, dan saya sering mendengar mereka cekikikan berdua di kamar. Saya jadi merasa iri dengan Santo. Saya belum pernah punya pacar sejak dulu. Memang dibanding Santo, saya anaknya agak lebih pendiam. Saya tetap punya teman-teman cewek, tapi bukan pacar.
Suatu kali, Santo sedang pergi keluar kota bersama teman-temannya untuk beberapa minggu (hampir sebulan kalau tidak salah). Thalita tetap di Bandung, karena dia mengambil semester pendek. Saya sempat merasa agak kesepian juga di rumah, karena saya hanya sendirian saja. Apalagi kalau Santo tidak di sini, berarti Thalita juga nggak akan datang ke rumah saya kan?
Nah, pada suatu siang di rumah, tiba-tiba saya seperti mendengar suara motor Thalita dari kejauhan. “Ah, aku pasti terlalu merindukan kehadiran Thalita”, pikirku, sampai suara motor lewat pun saya sangka suara motor Thalita.
Eh, ternyata suara motor itu memang menuju ke rumahku, dan saya kaget, itu memang Thalita! Dia mengenakan kaos ketat berwarna putih, dan celana jeans yang juga ketat. Sungguh menggairahkan sekali penampilannya saat itu. Saya gembira campur bingung, kenapa Thalita datang ke sini, padahal Santo kan lagi pergi?
“Halo Sandigo.. Sendirian aja ya di rumah? Kasian, ditinggal Santo sendirian. Pasti sepi ya?”, kata Thalita sambil menuntun motornya masuk.
“Iya nih Lit, sendirian terus tiap hari. Kamu tumben dateng ke sini? Ada angin apa Lit?”
“Ini San, aku mau ngambil catatanku yang dulu dipinjem Santo. Soalnya ada perlu buat semester pendek.”
“Ooo.. kalo gitu masuk aja Lit. Aku kurang tau di mana Santo nyimpen catatanmu. Liat aja di kamarnya.”, jawabku lagi.
Thalita pun masuk ke kamar Santo dan mencari catatannya di laci meja komputer Santo. Sepertinya dia memang sudah tau kalau Santo menyimpannya di sana. Untuk membuka laci itu, dia mesti agak membungkuk. Ketika membungkuk, bagian belakang baju kaosnya agak terangkat, dan tampaklah olehku punggungnya yang putih mulus. Wahh.. walaupun hanya sedikit yang tampak, tapi itu sudah membuat pikiranku melayang dan otomatis penisku pun ikut berdiri.
“Udah dapet nih San, catatannya.”, kata Thalita kepadaku.
“Oh, di sana ternyata dia simpen ya? Oke deh. Itu aja yang perlu Lit?”, kataku dengan agak sedikit kecewa, karena kalau memang hanya itu tujuan dia ke sini, berarti dia udah mau balik dong..?
“Iya, ini aja. Aku pulang dulu deh ya San.”
Yaahh.., sebentar banget aku sempat ketemu dengan Thalita, pikirku.:((Kemudian Thalita keluar menuju motornya. Di depan motornya aku melihat dia menggantungkan sebuah tas yang agak besar.
“Bawa apaan tuh Lit?”, tanyaku sama Thalita.
“Oh, ini? Sebenarnya setelah ini aku bukan mau pulang sih. Aku rencananya mau ke tempat temenku. Numpang mandi. Abis, air di kostku lagi habis. Sumurnya kering San. Wah, jadi ketauan deh kalo aku belum mandi nih.. Jadi malu..”, kata Thalita dengan agak malu-malu.
Wah.., kesempatan nih!
“Kenapa nggak mandi di sini aja Lit? Airnya banyak kok di sini. Daripada repot-repot ke tempat temenmu lagi. Gimana? Mau?”, cecarku dengan penuh semangat (campur nafsu:)
“Mmm.., nggak apa-apa nih San?”, tanya Thalita agak ragu.
“Nggak apa-apa kok. Bener. Suwer. Samber geledek.”, jawabku dengan sedikit bercanda.
“Ya oke deh kalo gitu. Aku numpang mandi ya..”
Yess.. Akhirnya aku punya kesempatan untuk bersama Thalita lebih lama lagi.. Thalita langsung masuk lagi menuju kamar mandi. Aku hanya dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu. Aku membayangkan Thalita membuka baju ketatnya, dan melepaskan celana jeansnya. Aku membayangkan bagaimana tubuh seksi Thalita hanya berbalutkan BH dan celana dalam saja.
Hhhmm.. penisku langsung tegang dengan sendirinya tanpa perlu kusentuh. Sedang enak-enak melamun, tiba-tiba pintu kamar mandi Thalita terbuka. Oh, ternyata Thalita masih mengenakan pakaiannya, tidak seperti dalam bayanganku.
“Sandigo, aku bisa pinjem handuk nggak? Aku lupa bawa nih. Sori ya ngerepotin.”
“Oh, nggak apa-apa. Ntar ku ambilin.”
Ketika aku memberikan handukku kepada Thalita, terlihat tali BH Thalita yang berwarna hitam di bahunya. Walaupun itu hanya seutas tali BH di bahu, tapi itu sudah cukup untuk membuatku berimajinasi yang bukan-bukan tentang Thalita.
“Makasih ya Sandigo..”, wah, suaranya benar-benar bisa membuatku terbang ke langit ketujuh..
“eh, iya..”, jawabku.
Lalu Thalita masuk kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian sudah terdengar suara cebyar-cebyur air. Aku tak dapat berhenti membayangkan tubuh Thalita yang telanjang.. Kulitnya pasti mulus.., putih.., dan badannya sangat seksi sekali.. mmhh.. aku tak kuasa untuk menahan nafsuku.. Aku masuk ke kamar, dan masuk ke kamar mandiku (letaknya tepat di sebelah kamar mandi tamu tempat Thalita mandi).
Di dalam kamar mandi, aku langsung melepaskan seluruh pakaianku dan mengambil sabun untuk onani. Aku memegang penisku yang sudah sangat tegang (rasanya belum pernah “dia” sebesar ini. Bayangan akan Thalita benar-benar telah membuatnya sangat keras..). Dengan sedikit sabun, aku mulai meremas-remas penisku.
Pelan-pelan mulai mengocoknya maju-mundur.. mm.. aku membayangkan ini adalah tangan Thalita yang mengocok penisku.. oohh Thalita.. andaikan kamu mau mandi bersamaku di sini.. hhmm.. Imajinasiku telah melayang ke mana-mana. Sedang asyik-asyiknya onani, tiba-tiba pintu kamar mandiku diketuk dari luar.
“Sandigo.. Kamu lagi mandi ya? Sori mengganggu lagi. Kamu ada sabun cuci muka nggak? Aku lupa bawa tadi..”, terdengar suara Thalita memanggil.
Aku kaget! Wah, mana udah mau klimaks, eh Thalita ngetuk pintu. Buyar deh imajinasiku yang sudah kubangun dari tadi. Wah, pasti Thalita sudah pakai baju lengkap lagi seperti tadi, tidak telanjang seperti dalam bayanganku. Tapi nggak apa-apa deh, kan aku bisa ngeliat Thalita lagi jadinya. Aku lingkarkan handuk di pinggangku untuk menutupi penisku yang tegang, lalu aku ambilkan sabun cuci mukaku untuk Thalita.
“Ini Lit, sabun cuci mukanya”, kataku sambil membuka pintu.
Wahh.. ternyata Thalita hanya mengenakan handukku yang kuberikan tadi, bukannya berpakaian lengkap! Rejeki lagi nih! Dengan balutan handukku yang tidak terlalu lebar itu, tampak kulitnya yang benar-benar putih mulus. Handukku hanya menutupi dari dadanya sampai sekitar 15 cm di atas lututnya. Tampak olehku pahanya yang begitu indah. Rambutnya yang basah juga memberi efek yang membuatnya semakin kelihatan seksi.. Tanpa bisa dibendung, penisku menjadi semakin tegang lagi..
“Makasih Sandigo.. Wah, bener-bener sori ya, jadi ngeganggu mandimu..”, kata Thalita lagi.
“Ehm.., nggak apa-apa kok Lit.”, jawabku terbata-bata karena nggak kuat menahan nafsuku..
Tanpa kusadari, penisku semakin menyembul dan membuat handukku hampir copot. Jarakku dengan Thalita waktu itu sangat dekat, sehingga penisku yang sudah berdiri itu menyentuh bagian perut Thalita (penisku dan perut Thalita sama-sama masih tertutupi handuk). Thalita kaget, karena ada sesuatu yang menekan perutnya.
“Eh, aku mandi lagi ya San.”, kata Thalita buru-buru dengan muka yang memerah. Sepertinya dia malu campur bingung.
“Mmm, iya.., aku juga mau mandi lagi”, jawabku juga dengan penuh malu.
Thalita pun kembali ke kamar mandinya, dan aku juga masuk lagi ke kamar mandiku.
Di dalam kamar mandi aku berpikir, apa kira-kira tanggapan Thalita atas kejadian tadi ya? Apa dia akan lapor ke Santo kalau aku berbuat kurang ajar? Apa dia marah sama aku? Atau apa? Aku jadi takut.. Setelah termenung beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang kukerjakan tadi. Masalah nanti ya urusan belakangan. Baru saja aku mau mulai untuk onani lagi, pintu kamar mandiku diketuk lagi.
“Sandigo.., sori mengganggu lagi. Aku ada perlu lagi nih”, kata Thalita dari luar.
“oh iya, bentar..”
Sekarang aku pakai CD & celana pendekku. Aku nggak mau terulang lagi kejadian memalukan tadi. Aku keluar dari kamar mandi.
“Ada apa Lit? Apa lagi yang ketinggalan? Mau pinjem CD?”, candaku pada Thalita.
“Ah, kamu ada-ada aja.”, kata Thalita sambil tertawa. Hhh.., manis sekali senyumannya itu..
Btw, dia masih mengenakan handuk seperti tadi. Seksi..!
“Gini San.. Waktu aku minjem sabun cuci muka tadi, aku tau kalo kamu sempat.. mm.. apa
ya istilahnya? Terangsang?”, kata Thalita.
“Hah? Apa? Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti?”, tanyaku pura-pura bego.
“Nggak apa-apa kok San. Nggak usah malu. Kuakui, aku tadi juga sempat membayangkan
“itu” mu waktu aku masuk kamar mandi lagi.
Baca Juga : Terpaksa Menjual Diri Kepada Pria Tua Bangka Demi Biaya Operasi Ibu
Aku bahkan hampir saja mau.. mm.. masturbasi sambil membayangin kamu. Tapi kupikir, ngapain pake tangan sendiri, kalo “barang”nya ada di sebelah?”, jawab Thalita.
“Hhhaahh? Apa maksudmu Lit? Aku jadi makin bingung? Aku nggak”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Thalita sudah meraba penisku dari luar celana pendekku.
“Ini yang kumaksud, Sandigo! Burungmu yang tegang ini! Aku menginginkannya!”, kata Thalita sambil terus meraba-raba dan meremas penisku.
“hhmm.., Thalita.. kamu..”
“Sandigo.. Walaupun aku pacarnya Santo, kamu nggak usah malu begitu. Sejak bertemu denganmu di jogjakarta ini, aku selalu membayangkanmu dalam setiap fantasi seksku.
Bukannya aku nggak cinta Santo. Tapi dengan membayangkan sesuatu yang “tabu”, biasanya aku selalu menjadi begitu terangsang, dan selalu kuakhiri dengan masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan saudara kembar pacarku sendiri.
Sandigo.. saat ini sudah lama kutunggu-tunggu. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya mengulum burungmu dalam mulutku. Bagaimana rasanya memainkan burungmu dalam vaginaku.. hhmm.. You’re always on my fantasy, Sandigo..”, cerocos Thalita sambil semakin kuat meremas penisku (masih dari luar celana pendekku).
“Ohh.., oohhmm.., Thalita.. Aku.., juga.. selalu membayangkanmu dalam setiap onaniku.
Aku nggak tahan melihat kecantikan dan keseksianmu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku cemburu dengan Santo. Aku selalu membayangkan tubuhmu yang putih, halus, lembut, dan seksi ini.. Aku menginginkanmu Thalita..”, jawabku sambil meraba bahu dan tangannya yang begitu halus dan lembut.
Kemudian tanpa berpikir lagi, aku raih rambutnya dan kutarik mukanya ke mukaku, dan kucium Thalita dengan buas. Kulumat bibirnya yang merah dan mungil itu. Inilah pengalaman pertamaku mencium wanita. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Apalagi tangannya masih terus meremas penisku yang sudah berdenyut-denyut dari tadi.
“Hmmpp.., mmhhmmhh..”, Thalita juga membalas ciumanku dengan lumatan bibirnya dan lidahnya bermain-main di dalam mulutku.
Aku terus menghisap bibir & lidahnya, dan tanganku mulai meraba payudaranya yang masih tertutup handuk. Payudaranya cukup besar. Belakangan kuketahui ukurannya 34B. Terasa putingnya yang mengeras dari balik handuk.
“Ohh.. Sandigo.. remas susuku! Remas, San.. Ohhmmhh..”,
desah Thalita di telingaku, semakin membuatku bernafsu.. Tanpa pikir panjang, langsung kulepaskan handuk Thalita, sehingga tampaklah di depan mataku keindahan tubuh telanjang
Thalita yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.
“Thalita.. kamu sunguh-sungguh cantik.. Aku menginginkanmu..”. Cerita Terpanas
Aku pun langsung menerkamnya dan tanpa membuang waktu langsung kuhisap payudaranya yang bulat & padat itu. Sebelumnya aku hanya dapat membayangkan betapa indahnya payudara Thalita yang sering mengenakan kaos ketat itu. Bahkan pernah sekali dia mengenakan kaos ketat tanpa BH, sehingga tampak samar-samar putingnya yang merah olehku waktu itu.
“Sandigo.. Mmmhhmm.. Kamu benar-benar hebat Sandigo.. Bahkan Santo tidak pernah bisa membuatku jadi gila seperti ini.. Ooohh.. hisap putingku San. Jilat.. hhmm..” jerit Thalita yang sudah benar-benar penuh nafsu birahi itu.
Aku terus menjilati dan menghisap payudaranya, dan sekali-sekali kugigit karena gemas, sehingga payudaranya menjadi merah-merah. Tapi Thalita tidak marah, malah sepertinya ia sangat menikmati permainan mulutku.
Bosan bersikap pasif, Thalita pun melepaskan celana pendekku dengan penuh nafsu, sehingga tampaklah olehnya penisku yang sudah berdiri tegak hingga keluar dari pinggang celana dalamku.
“Besar sekali burungmu Sandigo! Wow.. Lebih besar dari pacarku yang dulu. Bahkan lebih besar dari punya Santo! Kukira punyamu sudah yang terbesar yang pernah ada!”, puji Thalita dengan mata berbinar ketika melihat penisku.
Thalita menarik CDku hingga lepas, berlutut di depan penisku dan langsung menjilati telorku yang penuh bulu itu.
“Aahhmm.. enak sekali Thalita..! mmhhmm.. Kamu memang hebat sekali..”,
aku meracau kenikmatan sambil terus membelai rambutnya yang indah.
“oohhmm.. aku suka sekali burungmu Sandigo.. besar, panjang, dan hitam.. oohhoohhmm..”,
Thalita memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, dan menghisapnya dengan kuat.
“Ahh.., Thalita.. AAaaahahmmhh..”,
aku benar-benar dalam puncak kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan onani hanyalah sepersekian dari kenikmatan dihisap dan dijilat oleh mulut dan lidah Thalita yang sedang mengulum penisku ini.
Thalita dengan penuh semangat terus menghisap penisku, dan karena ia memaju mundurkan kepala & badannya dengan kencang, tampak olehku payudaranya bergoyang-goyang kesana kemari. Ketika aku hampir mencapai klimaks, langsung kutarik penisku dari mulutnya, dan kupeluk Thalita erat-erat sambil menjilati & menciumi seluruh mukanya. Mulai dari keningnya, matanya, hidungnya yang mancung, pipinya, telinganya, lehernya, dagunya, dan kuteruskan ke bawah.
Sampai akhirnya seluruh tubuhnya basah oleh air liurku dan di beberapa tempat bahkan sampai merah-merah karena hisapan dan gigitan gemasku. Thalita benar-benar menikmati perlakuanku terhadap tubuhnya, terutama ketika aku menjilati dan menghisap daun telinganya. Dia benar-benar merinding ketika itu.
“oohh Sandigo.., kamu hebat sekali.. Belum pernah ada sebelumnya yang bisa membuatku orgasme tanpa perlu menyentuh vaginaku. Ohhmm.. you’re the greatest..!”, kata Thalita lagi.
Setelah beristirahat sejenak, aku mulai menjilati vagina Thalita.
“Sandigo.. nikmat sekali.. kamu hebat sekali memainkan lidahmu.. mmhhmm.. aahhgghh..”, Thalita benar-benar menikmati permainan lidahku yang mengobok-obok vaginanya dengan buas. “Thalita.., boleh aku memasukkan penisku ke dalam” belum selesai kata-kataku, Thalita langsung memotong.
“Nggak usah minta ijin segala, masukin burungmu yang gede itu ke vaginaku cepat, Sandigo!”, potong Thalita sambil memegang penisku dan mengarahkannya ke lobang vaginanya.
“Ahh.. sempit sekali Thalita.. Mmmgghh..”, vaginanya benar-benar menjepit penisku dengan kencang sekali, sehingga sensasi yang kurasakan menjadi benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Pokoknya enak banget!!
“Ooouuuhh Sandigo.. burungmu besar sekali!! HHhhmmhh.. aahh.. nikmat sekali Sandigo!”
Perlahan-lahan, aku pun mulai menggoyangkan pantatku sehingga penisku yang gede dan hitam mulai mengocok-ngocok vaginanya. Thalita pun juga menggoyangkan pantatnya yang putih mulus itu sehingga makin lama goyangan kami menjadi semakin cepat dan buas.
“Sandigoooo.. hh.. hh.. hh.. aku suka burungmu! mmhh.. lebih cepat, cepat.. keras.. aku.. hhoohhmmhh..”,
racauan Thalita makin lama makin tidak jelas.
“Aku hhaammpir keluuaar.. Thalitaaa.. hhmmhh..”,
campuran antara goyangan, desahan, dan tampang Thalita yang benar-benar seksi, merangsang, dan penuh keringat itu membuatku nggak tahan lagi.
“Keluarkan di dalam saja, Sandigo.. Aku jugaa.. mauu.. sampai.. hh..”.
“Aaahhhhmm.. aarrrhh.. ohmmm.. Nikmat Sekali.. Ahmmpp..!!” kami berdua mencapai klimaks pada saat yang bersamaan.
Setelah permainan yang dahsyat itu, kami sama-sama terlelap di kamarku.
Sewaktu terbangun ternyata hari sudah malam. Thalita langsung pulang karena takut kostsannya sudah dikunci kalau kemalaman. Tapi kami berjanji untuk bertemu lagi esok hari, karena kami berdua masih ingin melanjutkan hubungan yang “tabu” ini. Kami sama-sama menikmatinya. Hahahaaa..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

















0 comments:
Post a Comment