Chat with us, powered by LiveChat
Situs Togel Online Goo4dagen sbobet terpercaya ads-banner24ads-banner25 Situs judi casinositus casino online

Saturday, September 1, 2018

0

Menikmati Tubuh Istri Karyawanku Di Meeting Room


Cerita Seks Menikmati Tubuh Istri Karyawanku Di Meeting Room^_^ Hari itu salah seorang direktur perusahaan, Pak Johandy, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan.

Tentu saja aku pun diundang, dan malam itu aku pun meluncur menuju tempat resepsi diadakan. Aku pergi bersama dengan Jhonson, temanku waktu kuliah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel tampak para undangan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka, sedangkan aku, karena masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

“Selamat malam Pak..” sapa seseorang agak mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata Ria sekretarisku yang menyapaku. Dia datang bersama tunangannya. Tampak sexy dan cantik sekali dia malam itu, disamping juga anggun. Berbeda sekali jika dibandingkan saat aku sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda. “Malam Ria” balasku.

Mata Jhonson tak henti- hentinya menatap Ria, dengan pandangan kagum. Ria hanya tersenyum manis saja dilihat dengan penuh nafsu seperti itu. Tampak dia menjaga tingkah lakunya, karena tunangannya berada di sampingnya. Kami pun lalu berbincang-bincang sekedarnya. Lalu aku pun permisi hendak menyapa para undangan lain yang datang, terutama para klienku. “Malam Pak Edward..” seorang wanita cantik tiba- tiba menyapaku. Dia adalah Rianti, istri dari Pak Farid, manajer keuangan di kantorku.

Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu. “Oh Rianti.. Malam” kataku “Pak Farid dimana?” “Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?” tanyanya. “Sama teman” jawabku sambil memandangi dia yang malam itu tampak cantik dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Ria, tampak membusung menantang. “Makanya, cari istri dong Pak.. Biar ada yang nemenin” katanya sambil tersenyum manis. “Belum ada yang mau nih” “Ahh.. Bapak bisa saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak..


Kalau belum married saya juga mau lho..” jawabnya menggoda. Memang Rianti ini rasanya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara dia memandangku. “Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married” kataku sambil menatap wajahnya yang cantik. “Ah.. Pak Edward.. Bisa aja..” jawabnya sambil tersipu malu. “Bener lho mau aku buktiin?” godaku “Janganlah Pak.. Nanti kalau ketahuan suamiku bisa gawat” jawabnya perlahan sambil tersenyum.

“Kalau nggak ketahuan gimana.. Nggak apa khan?” rayuku lagi. Rianti tampak tersipu malu. Wah.. Aku mendapat angin nih.. Memang aku sejak berkenalan dengan Rianti beberapa bulan yang lalu sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi wanita ini. Dengan kulit putih, khas orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia baru berumur 24 tahunan. 

“Gimana nih setelah kawin.. Enak nggak? Pasti masih hot ya. “Godaku lagi. “Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya” jawabnya lirih. Dari jawabannya aku punya dugaan bahwa Pak Farid ini tidak begitu memuaskannya di atas tempat tidur. Mungkin karena usia Pak Farid yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual wanita muda. Pasti jarang sekali dia mengalami orgasme. Uh.. Kasihan sekali pikirku.

Tak lama Pak Farid pun datang dari kejauhan. “Wah.. Pak Farid.. Punya istri cantik begini kok ditinggal sendiri” kataku menggoda. Rianti tampak senang aku puji seperti itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-laki tulen seperti aku ini. “Iya Pak.. Habis dari belakang nih” jawabnya. Tatapan matanya tampak curiga melihat aku sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin dia sudah dengar kabar akan ke- playboyanku di kantor.


“Ok saya tinggal dulu ya Pak Farid.. Rianti” kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju tempat hidangan. Akupun mengambil hidangan dan menyantapnya nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa-basi dengan para tamu undangan tadi. Kulihat si Jhonson masih ngobrol dengan Ria dan tunangannya. Ketika aku mencari Rianti dengan pandanganku, dia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Farid tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain.

Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak bisa membahagiakan istrinya. Rianti kemudian berjalan mengambil hidangan, dan akupun pura-pura menambah hidanganku. “anti.. Kita terusin ngobrolnya di luar yuk” ajakku berbisik padanya “Nanti saya dicari suami saya gimana Pak..” “Bilang aja kamu sakit perut.. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar ya”. “Kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus Tak lama Rianti pun keluar dari ruangan resepsi menyusulku. Kamipun pergi ke lantai di atas, dan menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengan dia di sana. Kebetulan aku tahu suasananya pasti sepi. Sebelum sampai di toilet, ada sebuah ruangan kosong, sebuah meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan nih, pikirku.

Kutarik Rianti ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, aku cium bibirnya yang indah itu. Rianti pun membalas bergairah. Tanganku pun bergerak merambahi buah dadanya, sedangkan tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya. Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem. Kuciumi leher Rianti yang jenjang itu, dan kusibakkan cup BHnya kebawah sehingga buah dadanya mencuat keluar. Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu, aku hisap dan aku permainkan putingnya yang sudah mengeras dengan lidahku.

“Oh.. Pak Edward..” desah Rianti sambil menggeliat. “Enak anti..” “Enak Pak.. Terus Pak..” desahnya lirih.


Tanganku pun meraba pahanya yang mulus, dan sampai pada celana dalamnya. Tampak Rianti sudah begitu bergairah sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya. Rianti pun kemudian tak sabar dan membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku.. Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian dia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku, dan tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang bulat karena kondisi yang tidak memungkinkan.


“Ohh.. Besar sekali Pak Edward.. Rianti suka..” katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat. “Memang punya suamimu seberapa?” tanyaku tersenyum menggoda. “Mungkin cuma separuhnya Pak Edward.. Oh.. Rianti suka..” katanya tak melanjutkan lagi jawabannya karena mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

“Enak Pak?” tanyanya sambil melirik nakal kepadaku. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku sementara lidahnya menjilati batang kemaluanku. “Enak sayang.. Ayo isap lagi” jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat. Dikulumnya lagi kemaluanku, sementara kedua tangannya meremas-remas pantatku. Sangat sexy sekali melihat pemandangan itu. 

Seorang wanita cantik yang sudah bersuami, bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung menghisap kemaluanku. Terlebih ketika kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Rianti mengulumnya kembali. “Hm.. Kontol bapak enak banget.. Rianti suka kontol yang besar begini” desahnya. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Rianti pun menghentikan isapannya.

“Iya Mas.. Ada apa?” jawabnya. “Lho Mas udah pikun ya.. Kan Rianti tadi udah bilang.. Rianti mau ke toilet.. Sakit perut.. Gimana sih” Rianti berbicara kepada suaminya yang tak sabar menunggu. Sementara tangan Rianti yang satu tetap meraba dan mengocok kemaluan atasan suaminya ini. “Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya..” Kemudian tampak suaminya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut digunakan Rianti untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya.

“Iya Mas.. Rianti juga cinta sama Mas..” katanya sambil menutup telponnya. “Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh dia nunggu agak lama, soalnya Rianti pengin puas dulu”. Sambil tersenyum nakal Rianti kembali menjilati kemaluanku. Aku sudah ingin menikmati kehangatan tubuh wanita istri bawahanku ini. Kutarik tangannya agar berdiri, dan akupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu. Tanpa perlu dikomando lagi Rianti menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah. Rianti kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluanku pun menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu.


“Oh.. My god..” jeritnya tertahan. Kupegang pinggangnya dan kemudian aku naik- turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri cantik Pak Farid ini. Kemudian tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang saat Rianti bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian aku hisap dengan gemas. Cerita Terpanas

“Ohh Pak Edward.. Bapak memang jantan..” desahnya “Ayo Pak.. Puaskan Rianti Pak..” Rianti berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku. Setelah itu dia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya. Setelah beberapa menit aku turunkan tubuhnya dan aku suruh dia menungging sambil berpegangan pada tepian meja. Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang ikal itu.

“Kamu suka anti?” kataku sambil menarik rambutnya ke belakang. “Suka Pak.. Edward.. Suka..” “Suamimu memang nggak bisa ya” “Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh” “Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngentotin suamimu atau aku” tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang karena rambutnya aku tarik. “Rianti lebih suka dientotin Pak Edward.. Pak Edward jantan.. Suamiku lemah.. Ohh.. God..” jawabnya. “Kamu suka kontol besar ya?” tanyaku lagi “Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya suamiku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Edward besar.. Ohh yeah oh.. God. Suamiku jelek.. Pak Edward  ganteng. Oh god. Enakhh..” Rianti mulai meracau kenikmatan. “Oh.. Pak.. Rianti hampir sampai Pak.. Ayo Pak puaskan Rianti Pak..” jeritnya. “Tentu sayang.. Aku bukan suamimu yang lemah itu..” jawabku sambil terus mengenjot dia dari belakang.

Tanganku pun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan. “Ahh.. Rianti sampai Pak..” Rianti melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Akupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya. Kutarik tubuh Rianti hingga dia kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak lama tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik. Kuoles-oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. 

Kemudian Rianti pun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih. “Terimakasih Pak Edward.. Rianti puas sekali” katanya saat dia membersihkan wajahnya dengan tisu. “Sama-sama Rianti. Saya hanya berniat membantu kok” jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali. “Ngomong-ngomong, kamu pintar sekali blowjob ya? Sering latihan?” tanyaku.


“Rianti sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama suami sih jarang Rianti mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya” Wah.. Kasihan juga Pak Farid, pikirku geli. Malah aku yang dapat menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang cantik jelita itu. “Kapan kita bisa melakukan lagi Pak” kata Rianti mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. “Gimana kalau minggu depan aku suruh suamimu ke luar kota jadi kita bisa bebas bersama?” “Hihihi.. Ide bagus tuh Pak.. Janji ya” Rianti tampak gembira mendengarnya. Kami pun kembali ke ruangan resepsi. Rianti aku suruh turun terlebih dahulu, baru aku menyusul beberapa menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi tampak Jhonson sedang mencari aku.

“Hey man.. Where have you been? I’ve been looking for you” “Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache” jawabku. Tak lama Rianti datang bersama Pak Farid suaminya. “Pak Edward, kami mau pamit dahulu.. Ini Rianti nggak enak badan.. Sakit perut katanya” “Oh ya Pak Farid, silakan saja. Istri bapak cantik harus benar-benar dirawat lho..” Rianti tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Farid menunjukkan rasa curiga.

He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin dia akan syok berat bila tahu aku baru saja menyetubuhi istrinya yang cantik itu. Tak lama aku dan Jhonson pun pulang. Sebelum pulang aku berpapasan dengan Ria, sekretarisku. Aku suruh dia untuk mendaftarkan Pak Farid untuk training di Singapore. Memang baru-baru ini aku mendapat tawaran training ke Singapore dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Farid saja yang pergi, pikirku.

Toh memang dia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan aku hanya akan menolong istrinya yang cantik mengarungi lautan birahi selama dia pergi nanti. Tak sabar aku menanti minggu depan datang. Nanti akan aku ceritakan lagi pengalamanku bersama Rianti bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu karena terburu-buru, tentu aku akan lebih bisa menikmati dirinya.

0 comments:

Post a Comment